WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

DEN Proyeksikan Ekspor Produk Hilirisasi Aluminium Capai Rp129 Triliun Tahun Ini

Published Oktober 21, 2026 · Updated Oktober 21, 2026 · By Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Ekspor Hilirisasi Aluminium Diproyeksikan Capai Rp129,5 Triliun

Wartanaya.com – DEN Proyeksikan Ekspor Produk Hilirisasi aluminium Indonesia mencapai US$ 7,2 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun pada tahun ini. Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan ekspor aluminium pada 2024 yang berada di kisaran US$ 3,5 miliar.

Proyeksi ini menegaskan perluasan agenda hilirisasi nasional. Pengolahan sumber daya di dalam negeri tidak lagi hanya bertumpu pada nikel, melainkan juga mencakup aluminium dan lithium sebagai bagian dari rantai industri bernilai tambah.

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif Dewan Energi Nasional (DEN), Septian Hario Seto, menyebut peningkatan ekspor aluminium sebagai salah satu perkembangan penting bagi industrialisasi Indonesia.

“Kami perkirakan angka ekspor produk aluminium tahun ini menjadi US$ 7,2 miliar, naik dari sekitar US$ 3,5 miliar pada 2024,” kata Seto dalam konferensi pers di Istana Merdeka, Selasa (20/10).

Kontribusi Aluminium bagi Devisa dan Industri

Hilirisasi merupakan proses pengolahan bahan mentah menjadi produk antara atau produk industri dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Dalam industri aluminium, pengolahan domestik memungkinkan Indonesia menjual produk yang lebih siap digunakan dalam rantai manufaktur global.

DEN memperkirakan nilai gabungan hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai lithium mencapai US$ 50 miliar hingga akhir tahun ini. Angka tersebut naik 45% dibandingkan sekitar US$ 34,5 miliar dua tahun sebelumnya.

DEN Proyeksikan Ekspor Produk Hilirisasi tersebut juga menjadi sinyal bahwa sektor pengolahan dapat memperbesar penerimaan devisa. Aktivitas industri tidak berhenti pada ekstraksi sumber daya, tetapi berlanjut ke produksi material dan komponen yang dibutuhkan berbagai sektor manufaktur.

“Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat baik untuk Indonesia. Kedepannya kami perkirakan untuk aluminium ini ekspornya bisa melebihi sekitar US$ 10 miliar seiring dengan penambahan investasi dari smelter-smelter aluminium yang baru di Indonesia,” ucapnya.

Target ekspor aluminium di atas US$ 10 miliar pada masa mendatang dikaitkan dengan penambahan investasi smelter aluminium. Fasilitas peleburan berperan penting untuk mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Pengembangan Komponen Baterai Lithium

Selain aluminium, Indonesia mulai mengembangkan hilirisasi lithium melalui produksi komponen baterai, termasuk anoda dan katoda. Kedua komponen tersebut merupakan bagian penting dalam pembuatan baterai lithium.

Indonesia tidak memiliki sumber daya lithium, tetapi telah mempunyai fasilitas pengolahan atau lithium refinery. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan industri dapat dibangun melalui ekosistem pengolahan dan manufaktur, tidak semata-mata bergantung pada ketersediaan bahan tambang domestik.

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” ujarnya.

Keterhubungan antara bahan baku, fasilitas pemurnian, produsen komponen, dan manufaktur produk akhir menjadi faktor penting dalam industri baterai. Pengembangan anoda, katoda, serta fasilitas pemrosesan lithium melengkapi pengolahan nikel dan aluminium dalam rantai pasok yang lebih luas.

Hilirisasi Pertanian Turut Disiapkan

Agenda peningkatan nilai tambah juga diarahkan ke pertanian. Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyebut kratom dan kemenyan sebagai dua komoditas yang tengah disiapkan untuk program hilirisasi pertanian.

Ia juga menyampaikan rencana peresmian pusat studi atau Research Center mengenai genome sequencing di Toba, Sumatra Utara, oleh Presiden Prabowo pada Maret tahun depan apabila seluruh persiapan berjalan sesuai rencana.

“Ada dua yang akan hilirisasi dari pertanian yaitu kratom dan kemenyan,” ujar Luhut.

FAQ Ekspor Hilirisasi Aluminium

Berapa proyeksi ekspor produk aluminium hasil hilirisasi? DEN memperkirakan nilainya mencapai US$ 7,2 miliar atau sekitar Rp129,5 triliun pada tahun ini.

Berapa nilai ekspor aluminium Indonesia pada 2024? Nilai ekspor aluminium pada 2024 berada di kisaran US$ 3,5 miliar.

Mengapa hilirisasi aluminium penting? Hilirisasi meningkatkan nilai tambah produk, memperluas basis manufaktur, dan berpotensi menambah devisa Indonesia melalui ekspor produk olahan.

Apa target ekspor aluminium pada masa mendatang? Dengan tambahan investasi pada smelter aluminium baru, ekspor aluminium diperkirakan dapat melampaui US$ 10 miliar.

Related Reading