Menperin akan Perluas Insentif Otomotif ke Mobil Hybrid, Besaran Masih Dikaji
Menperin akan Perluas Insentif Otomotif ke Mobil Hybrid
Wartanaya.com – Menperin akan Perluas Insentif Otomotif melalui usulan pemberian insentif bagi mobil hybrid, plug-in hybrid, hingga Range Extended Electric Vehicle (REEV). Kebijakan ini disiapkan sebagai pengembangan dari insentif kendaraan listrik yang telah berjalan, sementara besaran dukungan untuk setiap jenis kendaraan masih dalam tahap kajian teknis.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan pembahasan mengenai insentif tersebut sudah dimulai. Kementerian Perindustrian berencana mengusulkan skema insentif kendaraan hibrida pada tahun ini, tetapi nilai bantuannya belum ditetapkan karena masih memerlukan penghitungan lebih lanjut.
“Nanti seberapa besar insentif yang akan kami usulkan akan lebih diperjelas lagi karena dari industri pun tidak meminta sama seperti BEV ya, tidak minta sama, tetapi yang penting ada insentif, besarannya secara teknis masih dikaji,” kata Sarmuji saat ditemui wartawan di kantornya, Selasa (27/10).
Industri Dorong Stimulus untuk Pasar Mobil Baru
Rencana Menperin akan Perluas Insentif Otomotif mendapat perhatian dari pelaku industri. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN, Nandi Julyanto, menilai stimulus dibutuhkan untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus mendukung penjualan kendaraan baru.
Menurut Nandi, kondisi pasar otomotif saat ini menunjukkan kecenderungan pergeseran minat konsumen ke mobil bekas atau used car. Karena itu, kebijakan insentif dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjaga minat pembelian kendaraan baru, termasuk kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.
“Jadi nanti bentuknya seperti apa mungkin perlu diskusi lebih lanjut,” kata Nandi dalam kesempatan yang sama.
Mobil hybrid menggunakan kombinasi mesin berbahan bakar minyak dan motor listrik. Sementara plug-in hybrid dapat diisi daya dari sumber listrik eksternal, sedangkan REEV memakai mesin sebagai penambah jarak tempuh. Perbedaan teknologi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah masih mengkaji bentuk serta besaran insentif yang tepat.
Kritik: Insentif Perlu Diprioritaskan untuk Mobil Listrik Baterai
Di sisi lain, INDEF Green Transition Initiative atau INDEF GTI meminta Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri memusatkan anggaran bantuan pembelian kendaraan pada mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV). Menurut lembaga ini, kebijakan tersebut lebih sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak.
INDEF GTI menilai arah insentif menjadi semakin penting ketika sejumlah daerah mengalami kelangkaan BBM. Dalam situasi tersebut, insentif kendaraan listrik dinilai dapat memberikan dampak lebih langsung karena kendaraan listrik berbasis baterai tidak menggunakan bensin untuk pengoperasiannya.
“Kalau tujuannya mengatasi kelangkaan BBM, insentif harus diarahkan ke kendaraan yang tidak memakai BBM sama sekali,” ujar Head of Industrial and Transport Decarbonization INDEF GTI Andry Satrio Nugroho dalam keterangan resmi, Kamis (22/10).
Andry menilai BEV berpotensi memberikan penghematan BBM paling besar untuk setiap rupiah insentif yang dikeluarkan pemerintah. Ia menekankan bahwa mobil hybrid masih memerlukan pengisian bensin di SPBU, sedangkan mobil listrik berbasis baterai tidak memakai BBM.
Data hingga September menunjukkan konsumsi BBM bersubsidi mencapai sekitar 13,4 juta kiloliter, meningkat 9,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, realisasi subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp376,8 triliun atau 84,3% dari pagu APBN 2026.
“Setiap mobil listrik yang terjual hari ini berarti satu kendaraan yang tidak lagi antre BBM,” kata Andry.
Ia juga mengingatkan ruang fiskal pemerintah dalam APBN 2026 terbatas. Karena itu, Menperin akan Perluas Insentif Otomotif perlu disertai pertimbangan efektivitas penggunaan anggaran, dampak terhadap konsumsi BBM, serta kontribusinya terhadap transisi energi di sektor transportasi.
FAQ Insentif Mobil Hybrid dan Kendaraan Listrik
Apakah besaran insentif mobil hybrid sudah ditetapkan?
Belum. Kementerian Perindustrian masih mengkaji besaran insentif yang akan diusulkan untuk mobil hybrid, plug-in hybrid, dan REEV.
Apakah insentif mobil hybrid akan sama dengan mobil listrik baterai?
Tidak ada kepastian bahwa nilainya akan sama. Menperin menyatakan industri juga tidak meminta insentif yang setara dengan BEV, meski tetap mengharapkan adanya dukungan kebijakan.
Mengapa ada dorongan agar insentif diprioritaskan untuk BEV?
INDEF GTI menilai BEV lebih efektif mengurangi konsumsi BBM karena tidak menggunakan bensin. Pertimbangan tersebut dinilai penting di tengah tingginya konsumsi BBM bersubsidi dan terbatasnya ruang fiskal pemerintah.