WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Minyak Turun Usai Trump Nyatakan Tak Akan Serang Iran Sebelum Pemilu Sela

Published Oktober 9, 2026 · Updated Oktober 9, 2026 · By Anthony Rodriguez - wartanaya.com

Foto : Anthony Rodriguez - wartanaya.com

Harga Minyak Turun Usai Trump Tunda Serangan Iran

Wartanaya.com – Harga Minyak Turun Usai Trump menyatakan Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela AS pada 3 November. Pernyataan Presiden Donald Trump itu meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, meski risiko gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut masih tinggi.

Pada pukul 09.41 waktu Singapura, harga minyak Brent melemah 0,8% menjadi US$103,43 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate atau WTI turun 0,7% ke US$90,81 per barel. Pelaku pasar menilai peluang aksi militer AS dalam waktu dekat berkurang setelah pernyataan tersebut.

Trump menyampaikan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung produktif. Namun, ia menegaskan tekanan terhadap Teheran belum berhenti karena blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.

Selat Hormuz Masih Jadi Risiko Utama Pasar Minyak

Meski Harga Minyak Turun Usai Trump menunda rencana serangan, Selat Hormuz tetap menjadi perhatian utama investor. Jalur laut ini merupakan salah satu rute terpenting bagi pengiriman minyak mentah dunia, sehingga gangguan terhadap pelayaran dapat langsung memicu lonjakan harga energi.

Pada Kamis malam, 8 Oktober, kantor berita semi-resmi Iran Fars melaporkan beberapa ledakan besar terjadi di Hormuz. Laporan tersebut, yang mengutip sumber militer tanpa nama, menyebut kapal tanker yang melintas di jalur selatan selat terkena ranjau. Informasi itu belum mendapat konfirmasi independen.

Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi tidak hanya volume minyak yang dikirim, tetapi juga keselamatan kapal, premi asuransi, ketersediaan tanker, dan biaya pengangkutan. Karena itu, berita keamanan di kawasan ini sering kali segera tercermin pada harga kontrak berjangka minyak.

Trump mengatakan sekitar 22 juta barel minyak berhasil melintasi Hormuz dalam satu malam. Volume tersebut melampaui arus harian sebelum perang dan lebih tinggi dari perkiraan sejumlah eksekutif industri. Arus pengiriman yang tetap berjalan memberi sinyal bahwa pasokan fisik masih tersedia, walaupun kondisi pelayaran tetap rentan.

Penundaan Serangan Belum Menghapus Premi Risiko

Harga Minyak Turun Usai Trump mengurangi kekhawatiran pasar akan konflik terbuka dalam waktu dekat. Namun, premi risiko geopolitik belum benar-benar hilang karena Amerika Serikat disebut telah menyiapkan sejumlah opsi militer terhadap Iran.

The New York Times melaporkan adanya rencana operasi selama tiga hari yang menyasar persenjataan drone dan rudal, fasilitas energi, serta lokasi lain di Iran. Pentagon juga telah memperkuat kehadiran militernya di Teluk Persia pada akhir bulan lalu dengan tambahan satu kapal induk dan 10.000 pelaut serta marinir.

Penambahan kekuatan tersebut melengkapi dua kapal induk yang telah berada di kawasan. Kondisi ini membuat pasar tetap berhati-hati karena perubahan keputusan politik atau perkembangan keamanan dapat mengubah arah harga minyak dengan cepat.

“Risiko eskalasi militer lebih lanjut dapat mengganggu aliran tersebut. Hal ini membuat para pedagang enggan meningkatkan posisi jual secara agresif dan mengambil posisi untuk mengantisipasi penurunan berkelanjutan di bawah US$100. Pasar masih bergerak dua arah, dengan premi risiko geopolitik bersaing dengan dinamika pasokan fisik yang semakin membaik,” kata Kepala Riset Pepperstone Group Ltd, Chris Weston.

Biaya Pengiriman Minyak Ikut Membebani Pasar

Pergerakan harga minyak sejak awal Oktober berlangsung sangat fluktuatif di tengah konflik AS-Iran. Pasar turut dipengaruhi peningkatan aliran minyak dari Timur Tengah, serangan terhadap kapal, serta ketatnya pasokan produk minyak.

Biaya angkutan laut menjadi salah satu faktor yang memperbesar tekanan pada rantai pasok energi. Tarif pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia menuju Asia Timur telah melampaui enam kali lipat dibandingkan tingkat sebelum konflik. Kenaikan ongkos ini dapat meningkatkan biaya yang harus ditanggung pembeli minyak.

Pertempuran kembali antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Teheran juga menambah ketidakpastian kawasan. Dengan berbagai titik konflik yang masih berlangsung, pelaku pasar akan terus mencermati keamanan jalur pelayaran dan kelancaran pasokan minyak dari Timur Tengah.

FAQ Harga Minyak dan Konflik Iran

Mengapa harga minyak turun?

Harga minyak melemah karena pernyataan Trump bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela mengurangi kekhawatiran pasar terhadap eskalasi militer dalam waktu dekat.

Apakah Selat Hormuz masih memengaruhi harga minyak?

Ya. Selat Hormuz tetap sangat penting bagi perdagangan minyak global. Gangguan terhadap kapal tanker, jalur pelayaran, atau arus pasokan di wilayah tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga minyak.

Apakah harga minyak bisa kembali naik?

Harga minyak dapat kembali menguat jika konflik meningkat, pengiriman melalui Hormuz terganggu, atau biaya angkutan laut terus melonjak. Sebaliknya, kelancaran pasokan fisik dapat menekan kenaikan harga.

Related Reading