WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bahlil sebut Harga Rata-rata Minyak Mentah RI Mencapai US$ 91-92 per Oktober

Published Oktober 19, 2026 · Updated Oktober 19, 2026 · By Richard Jackson - wartanaya.com

Foto : Richard Jackson - wartanaya.com

ICP Rata-rata Januari–Oktober Berada di Kisaran US$ 91–92 per Barel

Wartanaya.com – Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) rata-rata mencapai kisaran US$ 91–92 per barel sejak Januari hingga Oktober. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan kenaikan itu berkaitan dengan lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$ 100 per barel.

Pergerakan tersebut menjadi perhatian pemerintah karena harga minyak merupakan salah satu faktor penting bagi penerimaan negara, kebutuhan impor energi, serta perencanaan kebijakan sektor energi. ICP sendiri digunakan sebagai salah satu acuan dalam berbagai penghitungan fiskal dan kebijakan terkait minyak bumi di Indonesia.

“Rata-rata harga dari Januari hingga Oktober sekarang ICP di angka US$ 91-92 per barel,” kata Bahlil.

Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan pada Senin, 19 Oktober. Ia menjelaskan bahwa perkembangan rata-rata ICP tersebut juga telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.

Geopolitik Global Menekan Pasokan Minyak

Kenaikan harga minyak berlangsung saat kondisi geopolitik dunia dinilai semakin tidak pasti. Ketegangan di sejumlah kawasan produsen energi berpengaruh pada persepsi pasar terhadap risiko terganggunya pasokan minyak mentah internasional. Ketika risiko pasokan meningkat, harga minyak global dapat bergerak naik karena pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan distribusi energi menjadi lebih terbatas.

Lonjakan ICP tercermin dalam penetapan harga minyak mentah Indonesia pada September 2026. Pemerintah menetapkan rata-rata ICP bulan itu sebesar US$ 112,81 per barel. Nilai tersebut meningkat US$ 23,38, atau sekitar 26%, dibandingkan ICP Agustus 2026 yang berada pada level US$ 89,43 per barel.

Penetapan harga September dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 mengenai Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan informasi tersebut di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober.

Laode menjelaskan bahwa kenaikan ICP September mengikuti perubahan yang terjadi di pasar minyak internasional. Kenaikan bukan hanya terlihat pada satu jenis minyak acuan, melainkan terjadi pada seluruh benchmark global.

“Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global,” ujar Laode.

Ia menyebut tingginya ketidakpastian geopolitik serta bertambahnya risiko gangguan pasokan sebagai faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut. Situasi di Timur Tengah mendapat perhatian khusus karena kawasan itu memiliki peran besar dalam produksi dan distribusi minyak dunia.

Risiko di Selat Hormuz dan Infrastruktur Energi

Eskalasi konflik militer serta kebuntuan diplomasi di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute paling strategis untuk ekspor minyak global.

Ekspor minyak mentah yang melewati rute vital itu sempat turun hingga 28% dibandingkan Juli. Penurunan arus ekspor dapat memperketat pasokan di pasar internasional, khususnya apabila terjadi bersamaan dengan gangguan pada fasilitas produksi, jaringan pipa, kilang, atau terminal ekspor.

Tekanan terhadap pasokan juga diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan. Salah satu peristiwa yang menjadi perhatian ialah penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi. Pipa tersebut memiliki kapasitas 7 juta barel per hari dan ditutup sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone.

“Kondisi ini diperkuat oleh serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut,” kata Laode.

Selain perkembangan di Timur Tengah, pasokan minyak global juga dipengaruhi oleh penundaan kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan lanjutan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia dan kawasan Laut Merah. Kombinasi faktor-faktor itu membuat pasar menghadapi ketidakpastian lebih tinggi mengenai ketersediaan minyak mentah.

Bagi Indonesia, perubahan ICP perlu dipantau karena kebutuhan minyak nasional masih berkaitan dengan dinamika pasar internasional. Kenaikan harga minyak dapat memberikan peluang terhadap nilai penjualan minyak mentah, tetapi pada saat yang sama juga menambah tantangan bagi pengelolaan kebutuhan energi domestik dan impor produk minyak.

Harga Batu Bara Turut Menguat

Tidak hanya minyak, harga batu bara juga mengalami kenaikan. Bahlil menyampaikan harga batu bara berkualitas tinggi dengan spesifikasi 6.322 kcal/kg GAR telah bergerak hingga US$ 154 per ton.

Pemerintah melihat penguatan harga komoditas sebagai peluang untuk meningkatkan devisa. Namun, pengelolaan produksi tetap mempertimbangkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Karena itu, pemerintah menyatakan akan menjalankan relaksasi secara terbatas.

“Harapan kami memang harganya bagus, produksinya kita naikkan,” ujar Bahlil.

Langkah tersebut diarahkan agar Indonesia dapat memanfaatkan kondisi harga yang lebih baik tanpa mengabaikan kebutuhan menjaga keseimbangan pasar. Kinerja komoditas energi seperti minyak dan batu bara memiliki arti penting bagi perekonomian karena berhubungan dengan ekspor, penerimaan negara, kegiatan industri, dan ketersediaan energi.

Perkembangan harga minyak dan batu bara dalam beberapa bulan ke depan akan tetap dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, keputusan produksi negara-negara penghasil minyak, keamanan jalur perdagangan, serta gangguan yang mungkin terjadi pada fasilitas energi. Pemerintah pun perlu terus mencermati perubahan pasar agar kebijakan energi dan pengelolaan komoditas dapat disesuaikan dengan situasi yang berkembang.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Bahlil sebut Harga Rata rata Minyak?

Bahlil sebut Harga Rata rata Minyak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bahlil sebut Harga Rata rata Minyak matter?

Bahlil sebut Harga Rata rata Minyak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.