Satu Pulau, Mengapa Karhutla Masif di Kalimantan tapi Tidak di Malaysia-Brunei?
Kenapa Api Membara di Kalimantan Sementara Tetangga di Pulau yang Sama Tetap Sejuk?
Wartanaya.com – Lebih dari 57.000 hektare lahan di Kalimantan telah hangus akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dalam 24 jam terakhir, titik panas masih bermunculan di berbagai penjuru pulau tersebut.
Paradoksnya, wilayah Brunei serta bagian Sarawak dan Sabah di Malaysia—yang secara geografis menempati pulau yang persis sama—hampir tidak menunjukkan kepadatan titik panas serupa. Peta pemantauan NASA yang dirilis pada Senin (24/8) memperlihatkan kontras mencolok: Kalimantan tampak ditumbuhi titik api, sementara tiga wilayah tetangga itu relatif bersih.
Faktor Pemicu Bukan Sekadar Cuaca
Kalimantan, Brunei, Sarawak, dan Sabah semuanya menyimpan ekosistem gambut yang mudah terbakar ketika kelembapannya hilang. Tidak heran jika El Nino dan kemarau berkepanjangan kerap dijadikan kambing hitam atas kebakaran di Kalimantan dan sejumlah daerah lain di Indonesia.
Akan tetapi, Lailan Syaufina, dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, menegaskan bahwa iklim hanyalah satu dari banyak variabel. Jenis biomasa, posisi geografis, dan—yang paling menentukan—aktivitas manusia turut membentuk kerentanan suatu kawasan.
"Biasanya, bahan bakar hutan atau vegetasi itu bisa terbakar pada suhu sekitar 280 derajat celcius, kalau sampai menyala ya. Panas matahari enggak sampai segitu," kata Lailan, saat ditemui di Jakarta, pada Senin (24/8).
Artinya, sinari matahari di puncak kemarau pun tidak cukup untuk menyalakan api secara alami. Pemicu sesungguhnya datang dari luar: pembukaan lahan oleh manusia.
"Karena kalau kami lihat, kebakaran ini banyak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan. Di Indonesia, aktivitas itu lebih banyak dibandingkan di Malaysia dan Brunei," ujar Lailan.
"Tidak ada kebakaran alami di lahan gambut, itu tidak ada," ucapnya menegaskan.
Celah dalam Implementasi Kebijakan
Menurut Lailan, Malaysia dan Brunei telah menyusun kebijakan pengelolaan ekosistem gambut yang benar-benar dijalankan di lapangan. Indonesia pun memiliki rangkaian regulasi serupa, tetapi eksekusinya masih jauh dari kata optimal.
Setiap provinsi maupun kabupaten/kota di Indonesia sebenarnya sudah memiliki Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG) yang memuat langkah-langkah pemulihan sesuai kondisi lokal masing-masing.
"Sebenarnya, setiap provinsi dan kabupaten kota itu punya Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut (RPPEG). Kalau saja RPPEG itu diimplementasikan dengan baik, insyaallah itu akan bisa terlaksana," ujarnya.
Lailan menambahkan bahwa gambut yang telah rusak tidak akan pernah kembali ke kondisi semula secara utuh, namun rehabilitasi dan perbaikan kualitas masih terbuka.
Skala Ancaman dan Jendela Waktu
Data Pantau Gambut mencatat 45.428 titik panas yang jatuh di dalam ekosistem gambut sepanjang Januari–Juli 2026—padahal puncak musim kemarau dan El Nino belum tercapai.
BMKG memperkirakan El Nino akan bertahan hingga tahun 2027 dan berpotensi memperburuk kekeringan, terutama jika disertai fenomena Indian Ocean Dipole positif pada periode September–Desember 2026.
"Kita masih di pertengahan, jadi masih ada waktu untuk melakukan upaya-upaya penyelamatan kebakaran," ucap Lailan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Satu Pulau Mengapa Karhutla Masif di Kalimantan?Satu Pulau Mengapa Karhutla Masif di Kalimantan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Satu Pulau Mengapa Karhutla Masif di Kalimantan matter?Satu Pulau Mengapa Karhutla Masif di Kalimantan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.