WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Karhutla 2026 Lebih Luas dari 2023 dan 2019, El Nino Terkuat Mengintai

Published Agustus 19, 2026 · Updated Agustus 19, 2026 · By Michael Moore - wartanaya.com

Foto : Michael Moore - wartanaya.com

Karhutla 2026 Lebih Luas dari 2023: Ancaman Super El Nino Perketat Situasi Kebakaran Hutan

Wartanaya.com – Perkembangan data kebakaran hutan dan lahan sepanjang paruh pertama tahun ini menunjukkan bahwa karhutla 2026 lebih luas dari 2023 dan juga melampaui capaian 2019. Di balik lonjakan angka tersebut, para ahli klimatologi memperingatkan bahwa episode El Nino yang sedang berlangsung berpeluang menjadi yang paling ekstrem sejak pencatatan modern dimulai. Pada musim 2026–2027, suhu puncak diproyeksikan mencapai 3,6°C, naik sekitar 0,8°C dari rekor 2,75°C pada episode 2015–2016.

Lonjakan Luasan Terbakar: Data Resmi dari Kementerian Kehutanan

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan angka resmi dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI pada Selasa (18/8/2026). Total lahan yang terbakar dari Januari hingga Juli 2026 tercatat 202.004,3 hektare. Perbandingan dengan dua tahun sebelumnya memperlihatkan jurang yang signifikan: periode sama pada 2023 hanya mencatat 92.924 hektare, sementara 2019 berada di angka 137.007 hektare. Kedua tahun tersebut memang turut dipengaruhi El Nino, namun skala kebakaran tahun ini tetap jauh lebih besar.

"Sudah melebihi 2023, melebihi 2019, tapi dengan gejala El Nino yang tadi hampir sama dengan 2015, ini masih di bawahnya. Itu perjuangan kita." — Raja Juli Antoni

Raja Juli menegaskan keyakinannya bahwa total kebakaran tahun ini tidak akan menyentuh kisaran 600.000 hektare yang tercatat pada tujuh bulan pertama episode 2015. Angka tersebut hampir tiga kali lipat dari realisasi 2026 sejauh ini, dan ia menilai kapasitas penanganan pemerintah saat ini telah jauh lebih matang dibanding dekade lalu.

Konsentrasi Titik Panas di Tiga Provinsi

Sensor satelit pada rentang 1–13 Agustus 2026 mendeteksi 844 titik panas di seluruh Indonesia. Sumatra Selatan memimpin dengan 160 hotspot, disusul Kalimantan Tengah (156 titik) dan Kalimantan Barat (144 titik). Kombinasi suhu udara yang lebih tinggi serta kelembapan rendah akibat El Nino memperparah pelepasan asap dari area yang terbakar, memperpanjang durasi dan intensitas kebakaran di kawasan tersebut.

Peringatan Riset: Super El Nino di Ambang Sejarah

Zeke Hausfather, Kepala Peneliti Iklim di Stripe, dalam analisisnya di The Climate Brink (Juli 2026) menelaah 14 model prakiraan musim yang berbeda. Hampir seluruh model memproyeksikan puncak median intensitas El Nino berada pada level sangat kuat — sesuatu yang belum pernah teramati dalam catatan historis.

"Berbagai model meramalkan sesuatu yang di luar kami pernah observasi." — Zeke Hausfather

Erma Yulihastin, Pakar Klimatologi dan Perubahan Iklim di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memperkirakan Indonesia akan menghadapi kondisi sangat kering setidaknya hingga September 2026. Eskalasi intensitas El Nino melampaui ambang 3°C diprediksi terjadi pada November–Desember 2026, memperpanjang risiko kebakaran di musim kemarau berikutnya.

"Kita semua harus beradaptasi, bersiaplah menyaksikan fenomena Super El Nino terkuat sepanjang sejarah!" — Erma Yulihastin

Pemerintah menyatakan kesiapan dengan mengandalkan pengalaman dan kapasitas penanganan kebakaran yang telah diperbarui. Meskipun karakter iklim tahun ini menyerupai episode 2015, Raja Juli menekankan bahwa respons kelembagaan kini jauh lebih terstruktur dan cepat.

FAQ: Hal yang Perlu Diketahui

Apakah karhutla 2026 lebih luas dari 2023 secara signifikan? Ya. Luasan terbakar Januari–Juli 2026 mencapai 202.004,3 hektare, hampir dua kali lipat dari 92.924 hektare pada periode sama tahun 2023.

Kapan puncak intensitas El Nino diprediksi terjadi? Berdasarkan konsensus model prakiraan, puncak median berada

Related Reading