WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Produksi Kakao Besar, Sulawesi Tengah Ingin Tarik Investor Bangun Industri Hilir

Published Agustus 28, 2026 · Updated Agustus 28, 2026 · By Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Sulteng Dorong Masuknya Investor ke Rantai Industri Kakao

Wartanaya.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah secara terbuka mengajak pelaku usaha untuk membangun fasilitas pengolahan kakao di wilayahnya. Langkah ini diambil setelah volume panen komoditas tersebut menembus angka 126.516 ton pada tahun 2025, sebuah skala yang dinilai belum sepenuhnya dikonversi menjadi nilai ekonomi bagi petani lokal.

Sebaran Produksi per Kabupaten

Parigi Moutong menempati posisi teratas sebagai sentra penghasil kakao Sulteng dengan kontribusi 29.683 ton, setara 23,46% dari keseluruhan output provinsi. Di belakangnya, Poso menyumbang 22.486 ton, disusul Donggala (17.838 ton), Sigi (17.524 ton), dan Banggai (16.621 ton).

Daerah-daerah lain turut mencatatkan hasil panen: Morowali Utara 8.158 ton, Tolitoli 7.521 ton, Buol 3.567 ton, Morowali 882 ton, Banggai Kepulauan 257 ton, Banggai Laut 167 ton, serta Kota Palu sebesar 4,62 ton.

Panggilan untuk Hilirisasi

Muhammad Neng, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulteng, menegaskan bahwa besarnya volume panen harus diimbangi dengan penguatan di sisi hilir. Ia menekankan bahwa kualitas biji, kapasitas teknis petani, akses pembiayaan, serta nilai tambah produk akhir semuanya perlu diperkuat secara simultan.

"Kami sangat membutuhkan investor untuk membangun industri hilirisasi kakao di Sulteng," ujar Muhammad Neng, sebagaimana dikutip dari Antara pada Rabu (26/8).

Ia menambahkan bahwa keberadaan pabrik pengolahan akan mengubah posisi kakao dari sekadar bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi jauh lebih tinggi.

"Kami punya lahan dan ada produksi, bagaimana kalau ada pabrik, tentu lebih tinggi produksinya," lanjutnya.

Proyeksi Produktivitas Pasca-Peremajaan

Kementerian Pertanian telah menyalurkan 18,7 juta bibit kakao selama dua tahun terakhir guna mendukung program peremajaan tanaman tua. Muhammad memperkirakan bahwa pohon hasil peremajaan akan mencapai produktivitas optimal dalam rentang tiga hingga empat tahun setelah tanam, dengan potensi output dua kali lipat dibanding kondisi eksisting.

Dengan demikian, volume produksi kakao Sulteng diproyeksikan kembali melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Namun, tanpa pasar yang memadai dan kapasitas pengolahan yang memadai, lonjakan tersebut berisiko tidak terserap secara optimal. Oleh sebab itu, Pemprov Sulteng menjadikan pembangunan industri hilir sebagai prioritas utama untuk memastikan petani memperoleh manfaat ekonomi yang proporsional dari komoditas unggulan daerah.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Produksi Kakao Besar Sulawesi Tengah Ingin?

Produksi Kakao Besar Sulawesi Tengah Ingin is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Produksi Kakao Besar Sulawesi Tengah Ingin matter?

Produksi Kakao Besar Sulawesi Tengah Ingin matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.