WartaNaya
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mengukur Efek Suntikan Dana Jumbo Singaraja Putra (SINI) ke 2 Anak Usaha

Published Agustus 25, 2026 · Updated Agustus 25, 2026 · By Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Foto : Elizabeth Anderson - wartanaya.com

Transformasi Singaraja Putra: Suntikan Rp 1,18 Triliun ke Dua Anak Usaha Tambang Batu Bara

Wartanaya.com – PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten yang dikendalikan oleh dua konglomerat nasional—Happy Hapsoro dan Prajogo Pangestu—telah menyalurkan dana sebesar Rp 1,18 triliun sebagai modal kerja kepada dua entitas anak di sektor pertambangan batu bara. Langkah ini merupakan bagian dari pelaksanaan rencana alokasi dana hasil penerbitan saham baru melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang telah dilakukan sebelumnya.

Rincian Penyaluran Dana

Dari total pinjaman tersebut, porsi terbesar hingga Rp 633,25 miliar dialokasikan kepada PT Persada Kapuas Prima (PKP), sementara PT Pasir Bara Prima (PBP) menerima maksimal Rp 547,03 miliar. Kedua pinjaman dikenakan suku bunga tahunan sebesar 10,95%.

Dana yang diterima kedua anak usaha akan diperuntukkan bagi kebutuhan operasional tambang, meliputi pembayaran jasa kontraktor pertambangan dan pengangkutan (hauling), pengadaan bahan bakar, serta berbagai biaya penunjang produksi batu bara.

Respons Pasar Modal

Pasar merespons aksi korporasi ini dengan kuat. Pada penutupan perdagangan Senin (24/8), harga saham SINI naik 8,36% secara harian dan menetap di level Rp 8.750. Dalam rentang satu bulan terakhir, kenaikan kumulatif mencapai 28,68%, sementara lonjakan mingguan tercatat sebesar 24,56%.

Kekuatan penguatan ini sejalan dengan pergeseran profil bisnis perseroan dari penyedia jasa menjadi pemegang eksposur langsung terhadap operasi pertambangan batu bara.

Jejak Transformasi Bisnis

Berdasarkan riwayat korporasi, SINI awalnya berdiri sebagai perusahaan di sektor hospitality (penginapan) dan menjadi induk bagi entitas anak yang beroperasi di bisnis kayu. Diversifikasi besar-besaran ke sektor tambang batu bara kemudian dilakukan melalui serangkaian akuisisi strategis, yang pada akhirnya menempatkan perseroan sebagai pemilik cadangan batu bara bernilai puluhan juta ton di wilayah Kalimantan.

Saat ini, operasi tambang di Kalimantan Tengah dijalankan melalui anak usaha PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Transformasi ini bermula dari akuisisi PT Dwi Daya Swakarsa pada 2023, dilanjutkan dengan mulai beroperasinya PBP dan PKP sepanjang 2024–2025, serta diperkuat pada 2026 melalui akuisisi KMS dari PTRO—seiring dengan masuknya PTRO sebagai pemegang saham SINI.

Pandangan Analis

Elandry Pratama, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, menilai bahwa penyaluran dana ke PBP dan PKP mencerminkan keseriusan SINI dalam mempercepat pengembangan serta produksi tambang. PBP sendiri ditargetkan memulai first cut pada kuartal IV 2026.

"Kalau eksekusinya berjalan sesuai target, potensi peningkatan revenue dan cash flow ke depan cukup besar."

Menurut Elandry, investor tetap perlu mewaspadai risiko eksekusi mengingat sebagian ekspektasi terhadap kinerja SINI sudah tercermin dalam harga saham. Risiko yang perlu dicermati mencakup aspek produksi, pembebasan lahan, serta fluktuasi harga batu bara. Untuk akhir 2026, ia memperkirakan target harga berada di kisaran Rp 9.000–Rp 10.000 per saham, dengan skenario dasar (base case) sekitar Rp 9.500 per saham.

Di sisi lain, Azharys Hardian, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, menilai SINI menunjukkan komitmen kuat dalam mengalihkan fokus bisnis ke sektor batu bara yang secara bertahap mulai memberikan kontribusi signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan.

Prospek Keuangan dan Harga Batu Bara

Ekspansi tambang mulai tercermin dalam laporan semester I 2026, di mana penjualan batu bara menyumbang 56,3% terhadap total pendapatan SINI—angka yang telah melampaui kontribusi bisnis kayu.

Dengan dukungan suntikan modal ke anak usaha tambang serta harga batu bara acuan yang masih bertahan di level tinggi, yakni sekitar US$ 130 per ton pada akhir Agustus 2026, Azharys optimistis pertumbuhan pendapatan dan laba bersih SINI dapat berlanjut. Korea Investment Sekuritas Indonesia menetapkan target harga SINI hingga akhir tahun di level Rp 10.000 per saham.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mengukur Efek Suntikan Dana Jumbo Singaraja?

Mengukur Efek Suntikan Dana Jumbo Singaraja is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mengukur Efek Suntikan Dana Jumbo Singaraja matter?

Mengukur Efek Suntikan Dana Jumbo Singaraja matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.