Energi

Bidik Investasi Pusat Data, Bahlil Dorong Energi Bersih dan Kemitraan Pengusaha

Menteri_ESDM_Bahlil_Lahadalia_di_Acara_Bali_Tech_Week_2026-2026_10_20-05_29_55_b4eda42a1a1da39a564d1d383e53ec5d_960x640_thumb

Investasi Pusat Data Didukung Energi Bersih

Wartanaya.com – Bidik Investasi Pusat Data Bahlil menjadi strategi pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri digital regional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai pengembangan pusat data membutuhkan kesiapan listrik dalam jumlah besar agar investasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

Menurut Bahlil, kebutuhan tambahan listrik untuk industri pusat data dapat mencapai sekitar 20 gigawatt (GW) atau 20.000 megawatt (MW). Jumlah tersebut setara sekitar 20% dari total kapasitas listrik yang tersedia saat ini, sehingga penyediaan energi menjadi faktor utama dalam menarik investor.

“Tadi saya baru habis berbincang sama Dirut PLN, itu membutuhkan penambahan 20 GW. 20 GW ini sama dengan 20.000 MW. Itu sama dengan 20 persen dari total listrik yang existing sekarang. Ini enggak sedikit, cukup besar sekali,” ujar Bahlil dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Senin (19/10/2026).

Tambahan 20 GW itu merupakan proyeksi kebutuhan listrik dari pengembangan pusat data, bukan kapasitas pusat data yang telah beroperasi. Hal ini memperlihatkan bahwa investasi digital membutuhkan perencanaan energi yang sejalan dengan pembangunan infrastruktur fisik dan teknologi.

AI Mendorong Permintaan Pusat Data

Pertumbuhan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut meningkatkan kebutuhan kapasitas komputasi. Layanan berbasis AI memerlukan daya pemrosesan besar, sehingga konsumsi listrik pusat data juga cenderung meningkat.

Selain listrik, investor pusat data mempertimbangkan ketersediaan air, jaringan serat optik, kesiapan lahan, serta kemudahan pengembangan kawasan. Berbagai kebutuhan tersebut penting untuk menjaga operasional pusat data dalam jangka panjang.

Batam, Karimun, dan Bintan diproyeksikan dapat menjadi kawasan pendukung ekosistem pusat data regional. Lokasi tersebut diharapkan melengkapi industri digital di Malaysia dan Singapura sekaligus menawarkan pilihan baru bagi investor teknologi.

Bidik Investasi Pusat Data Bahlil juga menempatkan wilayah tersebut sebagai kawasan dengan potensi air, kepadatan penduduk yang relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah wilayah di Jawa dan Bali, serta peluang pengembangan energi terbarukan.

PLTS dan Pasokan Listrik untuk Data Center

Penyediaan energi bersih menjadi bagian penting dalam upaya menarik investasi pusat data. Pelaku industri digital global semakin memperhatikan penggunaan energi rendah emisi, sehingga akses terhadap listrik dari energi terbarukan dapat memperkuat daya saing suatu lokasi investasi.

Pemerintah mengaitkan peluang tersebut dengan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sekitar 100 gigawatt-peak atau GWp.

“Kita akan membangun sekarang PLTS kurang lebih sekitar 100 gigawatt-peak. Dan saya punya keyakinan, teman-teman investor akan lebih suka untuk memakai data center mereka dengan memakai energi baru terbarukan. Dan ini sebuah peluang bisnis,” kata Bahlil.

GWp menggambarkan kapasitas puncak panel surya dalam menghasilkan listrik pada kondisi tertentu. Agar pasokan bagi pusat data tetap andal, pengembangan PLTS perlu didukung pengaturan sistem kelistrikan dan penyimpanan energi.

Rencana perluasan energi juga tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2025–2034. Dokumen tersebut memuat tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 GW untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik di berbagai sektor.

Batam Menyiapkan Infrastruktur Energi

Persiapan pasokan listrik di Batam telah dilakukan melalui Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik antara PLN Batam dan PT Digitalland Service One atau DayOne pada 17 April 2026. Perjanjian tersebut memiliki kapasitas 511 megavolt ampere.

BP Batam menyebut kapasitas dalam kontrak itu setara sekitar 450 MW. Angka tersebut menunjukkan kapasitas pasokan yang disepakati, bukan berarti seluruh daya telah digunakan pusat data saat ini.

BP Batam dan PLN Batam juga menandatangani nota kesepahaman untuk pengembangan PLTS terapung berkapasitas 200 MWp. Kerja sama ini menjadi bagian dari persiapan energi bersih bagi pertumbuhan industri digital dan aktivitas ekonomi di Batam.

Bidik Investasi Pusat Data Bahlil menegaskan pentingnya kemitraan antara pemerintah, pengelola kawasan, penyedia listrik, dan pengembang. Koordinasi tersebut diperlukan agar kebutuhan energi, lahan, serta infrastruktur digital dapat dipenuhi secara terpadu.

FAQ Investasi Pusat Data di Indonesia

Berapa kebutuhan listrik tambahan untuk pusat data? Bahlil memperkirakan pengembangan pusat data membutuhkan tambahan listrik sekitar 20 GW atau 20.000 MW.

Mengapa energi bersih penting bagi pusat data? Energi terbarukan menjadi pertimbangan banyak investor digital global yang menargetkan penggunaan listrik dengan emisi lebih rendah.

Wilayah mana yang diproyeksikan untuk pengembangan pusat data? Batam, Karimun, dan Bintan diproyeksikan dapat memperkuat ekosistem pusat data regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *