Energi

Harga Minyak Naik di Tengah Serangan Iran ke Kapal yang Melintas Selat Hormuz

2022_06_16-19_00_06_5f1e0434cb2c02382f86f570699107e0_960x640_thumb

Harga Minyak Naik di Tengah Serangan Iran di Selat Hormuz

Wartanaya.com – Harga Minyak Naik di Tengah meningkatnya serangan Iran terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz. Risiko gangguan pada jalur pelayaran energi penting ini membuat pasar kembali mencermati keamanan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah.

Pada pukul 08.18 waktu Singapura, harga minyak Brent naik 0,9% menjadi US$101,44 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI menguat 0,8% ke US$90,18 per barel. Pergerakan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa gangguan keamanan dapat memperlambat distribusi energi.

Arus Minyak dan Gas Masih Berjalan

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan serangan terhadap kapal belum menghentikan arus minyak dan gas di Selat Hormuz. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan aktivitas pengiriman energi masih berlangsung, meski ancaman terhadap kapal meningkat.

“Teheran menyerang sejumlah kapal, tetapi tidak cukup untuk menghentikan arus minyak dan gas,” kata Wakil Presiden AS JD Vance dikutip dari Bloomberg, Rabu (7/10).

Washington juga masih membuka kemungkinan jalur diplomasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Bagi pasar energi, perkembangan diplomatik dapat menentukan apakah premi risiko geopolitik akan terus bertahan atau mulai mereda.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut terbuka. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi biaya pengiriman, keputusan perusahaan pelayaran, dan harga energi global dalam waktu singkat.

Insiden Keamanan Menambah Tekanan Pasar

Harga Minyak Naik di Tengah situasi keamanan yang belum stabil, walaupun volume pengiriman melalui Selat Hormuz telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir. UK Maritime Trade Operations mencatat sedikitnya sembilan serangan di jalur itu sepanjang bulan ini. Jumlah tersebut setara dengan separuh gabungan insiden di Selat Hormuz dan Teluk Persia selama September.

Pasar menilai volume minyak yang tetap bergerak sebagai tanda bahwa distribusi belum lumpuh. Namun, banyaknya serangan membuat perusahaan pengangkutan dan pembeli minyak harus memasukkan risiko tambahan dalam perhitungan operasional mereka.

Harga minyak mentah telah melonjak sepanjang tahun setelah perang AS-Iran menghambat arus energi dari Timur Tengah. Kenaikan harga energi turut memberi tekanan pada inflasi karena bahan bakar dan produk minyak olahan berpengaruh besar terhadap biaya transportasi serta distribusi barang.

Pasokan dan Persediaan Menjadi Sorotan

CEO Shell Plc Wael Sawan menilai ruang untuk mengurangi dampak gangguan energi semakin terbatas. Persediaan global terus menyusut, sementara harga solar tetap tinggi. Kondisi ini membuat pasar fisik energi memiliki bantalan yang lebih kecil apabila pengiriman kembali terganggu.

“Pasar mulai percaya barel minyak masih dapat terus mengalir, yang menjadi alasan kita melihat sebagian premi geopolitik mulai hilang. Namun, persediaan yang menipis dan pasokan solar yang ketat menandakan pasar fisik memiliki bantalan yang jauh lebih kecil dibandingkan angka ekspor yang ada,” kata Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP, Haris Khurshid.

Shell menyatakan aliran minyak dari Timur Tengah telah pulih hingga sekitar 80% dari volume sebelum perang. Vitol Group juga menyebut sekitar 12 juta barel minyak mentah per hari melintasi Selat Hormuz dalam tujuh hingga 10 hari terakhir.

Arab Saudi menyampaikan produksi yang dialirkan melalui pipa lintas negara menuju Laut Merah mencapai 5,8 juta barel per hari. Jalur alternatif tersebut menjadi penting ketika keamanan pelayaran di Selat Hormuz menghadapi tekanan.

Dampak bagi Harga Energi

Harga Minyak Naik di Tengah ketidakpastian keamanan tidak selalu berarti pasokan global langsung terhenti. Namun, pasar tetap mencermati ketersediaan stok, kelancaran pengiriman, dan pasokan produk olahan seperti solar yang sangat dibutuhkan sektor logistik, industri, pertanian, serta transportasi.

Selama serangan belum menghentikan arus energi secara luas, harga minyak dapat bergerak mengikuti perkembangan pengiriman dan diplomasi. Akan tetapi, gangguan baru atau penyusutan persediaan dapat kembali meningkatkan tekanan terhadap harga.

FAQ Harga Minyak dan Selat Hormuz

Mengapa Selat Hormuz memengaruhi harga minyak?

Selat Hormuz adalah jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia. Ketika keamanan pelayaran terganggu, pasar khawatir pasokan terlambat atau biaya pengangkutan meningkat.

Apakah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sudah berhenti?

Belum. Pemerintah AS menyatakan arus minyak dan gas masih berjalan, meskipun terdapat serangan terhadap sejumlah kapal di kawasan tersebut.

Apa yang dapat membuat harga minyak kembali naik?

Harga dapat kembali tertekan naik apabila serangan meningkat, pengiriman minyak terhambat, persediaan global menyusut, atau ketegangan diplomatik antara AS dan Iran memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *