Nasional

Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo, 55 Korban Belum Ditemukan

2026_09_18-19_44_00_46a4765e-b367-11f1-9cb1-0242ac12000a_960x640_thumb

Operasi Bawah Air KM Virgo Transport 8 Dihentikan, Pencarian Korban Tetap Berlanjut

Wartanaya.com – Basarnas menghentikan operasi penyelaman untuk mencari korban KM Virgo Transport 8 yang belum ditemukan pada hari ke-21 pencarian dan pertolongan, Sabtu, 3 Oktober. Keputusan itu diambil setelah evaluasi terhadap kondisi kapal tenggelam, perubahan jasad korban, serta tingkat bahaya yang dihadapi para penyelam.

Meski kegiatan bawah air dihentikan, operasi SAR belum berakhir. Tim tetap melanjutkan pencarian terhadap 55 orang yang masih hilang dari total 243 penumpang dan kru yang tercantum dalam manifes kapal. Area pencarian kini difokuskan pada perairan Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, wilayah yang dinilai berpotensi dilalui korban akibat arus laut.

188 Orang Telah Ditemukan

Sampai pukul 22.00 WITA pada hari ke-21 operasi, Basarnas mencatat 188 orang telah ditemukan. Rinciannya, 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia. Dengan demikian, puluhan korban lainnya masih menjadi fokus pencarian di laut.

Kecelakaan KM Virgo Transport 8 terjadi pada Minggu, 13 September. Penyelaman mulai dilakukan sekitar hari ketiga operasi, setiap hari dari pukul 09.00 hingga 16.00 WITA. Selama kegiatan tersebut berlangsung, tim penyelam berhasil mengevakuasi 50 korban meninggal dari dalam kapal.

Setiap hari, operasi bawah air dilaksanakan rata-rata dalam empat hingga lima sortie. Dua sampai tiga tim diturunkan pada setiap sortie, dengan lima penyelam dalam satu tim. Upaya itu menjadi bagian penting dari proses pencarian, walaupun pelaksanaannya dipengaruhi cuaca dan kondisi medan di sekitar bangkai kapal.

“Kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal telah dilakukan, dan tiga hari terakhir ini tidak menemukan korban lagi,” ujar Kepala Basarnas Mohammad Syafii.

Kondisi Korban dan Kapal Berubah

Syafii menjelaskan bahwa penghentian penyelaman berkaitan dengan perubahan kondisi korban maupun struktur kapal sejak awal operasi. Pada hari-hari pertama, korban yang berhasil dikeluarkan dari kapal masih memungkinkan untuk naik ke permukaan sehingga dapat diterima oleh tim di atas laut.

Situasi tersebut tidak lagi sama setelah operasi berjalan beberapa pekan. Kondisi jasad korban telah berubah, sementara posisi dan struktur kapal terus mengalami pergeseran. Risiko korban terurai saat dikeluarkan dari ruang kapal membuat kelanjutan penyelaman dinilai tidak efektif dalam keadaan sekarang.

“Tidak efektif kalau operasi underwater ini kita teruskan dalam kondisi sekarang,” kata Syafii.

Masih terdapat bagian kapal yang belum dapat dijangkau, termasuk sisi lambung kiri. Namun, kondisi badan kapal dinilai sangat labil. Memasuki ruang yang belum diperiksa dapat meningkatkan ancaman bagi penyelam, terutama apabila kapal tiba-tiba mengalami perubahan kemiringan atau trim.

Tim telah melakukan penetrasi sekitar 10 hingga 15 meter ke bagian dalam kapal. Jangkauan yang lebih jauh sulit dicapai karena banyaknya barang, material, serta debris yang menghambat lintasan. Sejumlah jendela juga telah dibuka agar penyelam dapat masuk, tetapi sejak hari ke-19 tidak ditemukan korban tambahan melalui akses tersebut.

Risiko Tinggi di Kedalaman Laut

Penyelaman di bangkai kapal membawa tantangan yang tidak sederhana. Jarak pandang sangat terbatas karena sedimen dan serpihan di dalam maupun di sekitar kapal. Kondisi tersebut dapat menyulitkan orientasi penyelam ketika bergerak melalui ruang yang sempit dan penuh penghalang.

Benda-benda tajam di dalam kapal juga berpotensi menyebabkan luka atau cedera. Selain itu, tumpahan minyak dan kemungkinan kontaminasi lain menjadi faktor bahaya yang harus diperhitungkan. Pada kedalaman sekitar 27 meter, persediaan gas untuk peralatan scuba turut membatasi durasi kerja tim di bawah air.

Semakin jauh penyelam bergerak ke dalam kapal, semakin besar pula kompleksitas risiko yang harus dihadapi. Karena itu, Basarnas menempatkan keselamatan personel sebagai pertimbangan utama dalam menentukan strategi berikutnya. Pencarian korban tetap penting, tetapi pelaksanaannya harus seimbang dengan perlindungan terhadap petugas SAR.

Harapan pada Proses Salvage

Basarnas berharap pemilik kapal segera menjalankan operasi salvage atau pengangkatan badan kapal dari dasar laut. Proses tersebut diharapkan dapat membantu memastikan apakah korban yang belum ditemukan masih berada di dalam kapal, sekaligus membuka peluang evakuasi dalam kondisi yang lebih aman.

Pengangkatan kapal dapat memberi akses berbeda bagi proses pencarian, terutama terhadap bagian yang sebelumnya terlalu berisiko untuk dimasuki penyelam. Namun, operasi SAR di permukaan tetap berjalan sembari menunggu perkembangan langkah tersebut.

Peralihan fokus ke pencarian di perairan terbuka menunjukkan bahwa tim mempertimbangkan kemungkinan korban terbawa arus menjauh dari lokasi kecelakaan. Pencarian di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat akan menjadi bagian dari upaya lanjutan untuk menemukan seluruh korban yang belum terdata.

Dengan dihentikannya penyelaman, hasil yang telah dicapai tim bawah air tetap menjadi unsur penting dalam operasi ini. Puluhan korban berhasil dievakuasi dari bangkai kapal melalui misi yang berlangsung dalam lingkungan berbahaya. Tahap selanjutnya akan bergantung pada pencarian di permukaan laut dan kemungkinan pengangkatan KM Virgo Transport 8.

Frequently Asked Questions

What is Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo 55 Korban?

Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo 55 Korban is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo 55 Korban matter?

Basarnas Setop Penyelaman KM Virgo 55 Korban matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *