Jalur Senaru Gunung Rinjani Dibuka Lagi Mulai 3 Oktober 2026
Wartanaya.com – Wisatawan kembali dapat menggunakan jalur Senaru untuk mendaki Gunung Rinjani setelah akses tersebut sempat ditutup akibat kebakaran hutan di kawasan taman nasional. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Nusa Tenggara Barat memastikan pembukaan kembali dilakukan setelah api dipadamkan dan kondisi jalur diperiksa untuk kebutuhan keselamatan pengunjung.
Jalur Senaru di Kabupaten Lombok Utara mulai kembali melayani pendakian pada 3 Oktober 2026. Keputusan itu diambil sesudah proses penanganan kebakaran, evaluasi lapangan, serta asesmen bersama pihak-pihak terkait selesai dilakukan.
“Jalur pendakian Senaru dibuka kembali mulai 3 Oktober 2026,” katanya di Mataram, Sabtu (10/3).
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TNGR, Astekita Ardiarsito, menyampaikan bahwa pembukaan jalur tidak hanya mempertimbangkan padamnya api. Petugas juga melakukan pemeriksaan fasilitas dan infrastruktur pendakian agar perjalanan pengunjung dapat berlangsung dengan lebih aman.
Lima Jalur Pendakian Kembali Beroperasi
Aktivasi kembali Senaru membuat seluruh lima jalur wisata pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani beroperasi normal. Lima akses tersebut adalah Sembalun, Senaru, Tibanuh, Tetebatu, dan Aik Berik.
“Saat ini ada lima jalur pendakian yang dibuka,” katanya.
Bagi calon pendaki, registrasi tetap dilakukan secara daring melalui aplikasi eRinjani. Penggunaan pendaftaran online menjadi bagian penting dalam pengaturan kunjungan, sehingga wisatawan perlu memastikan data perjalanan dan persyaratan yang diminta telah disiapkan sebelum memulai pendakian.
Pembukaan akses Senaru memberi pilihan kembali bagi pengunjung yang ingin memasuki kawasan Rinjani dari Lombok Utara. Namun, status jalur yang kembali dibuka tidak menghilangkan pentingnya kepatuhan terhadap ketentuan taman nasional, terutama arahan petugas mengenai keselamatan, barang bawaan, dan perlindungan kawasan.
Dampak Kebakaran di Senaru dan Torean
Sebelum jalur dibuka kembali, kebakaran hutan terjadi di area pendakian Senaru dan Torean. Api yang muncul berupa kebakaran permukaan dengan material mudah terbakar yang terdapat di kawasan pegunungan.
Jenis bahan bakar kebakaran mencakup cemara gunung, semak belukar, perdu, rumput, savana pegunungan, daun-daun kering, serta vegetasi bawah lainnya. Kondisi vegetasi seperti itu membuat penanganan kebakaran membutuhkan pemantauan menyeluruh, termasuk untuk memastikan api tidak muncul kembali atau menjalar ke lokasi lain.
Kebakaran di Bukit Setampol, Resor Torean, kawasan Gunung Rinjani di Lombok, berlangsung sejak Selasa, 22 September 2026. Hingga pemantauan sementara pada 29 September 2026, areal yang terdampak diperkirakan mencapai 1.098,75 hektare.
“Berdasarkan pemantauan sementara sampai 29 September 2026, luas areal terdampak mencapai 1.098,75 hektare dan tidak terdapat titik api baru/meluas,” katanya.
Luas dampak tersebut masih bersifat perkiraan awal. Pembaruan data akan dilakukan setelah hasil pemantauan langsung di lapangan, dokumentasi menggunakan drone, dan verifikasi batas area terdampak tersedia. Proses ini penting untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai cakupan kebakaran di dalam kawasan taman nasional.
“Angka masih estimasi sementara dan akan diperbarui berdasarkan pemantauan lapangan, dokumentasi drone, dan verifikasi batas areal,” ujarnya.
Patroli dan Pengawasan Tetap Diperkuat
Meski tidak ditemukan titik api baru maupun perluasan kebakaran dalam pemantauan sementara, pengawasan di kawasan Rinjani belum dihentikan. Kondisi area terdampak masih dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan penyalaan kembali.
Pemantauan dilakukan dengan drone dari jarak 350 meter. Sisa titik panas yang terdeteksi berasal dari pohon berdiri yang sebelumnya telah terbakar. Titik-titik itu disebut berada dalam kondisi terisolasi dan tidak menyebar ke vegetasi di sekitarnya.
“Tim tetap siaga antisipasi penyalaan kembali. Pengawasan diperkuat via patroli dan pemeriksaan barang bawaan,” katanya.
Pemeriksaan barang bawaan menjadi perhatian bagi pengunjung karena kawasan pegunungan memiliki vegetasi yang dapat mudah terbakar, terutama pada bagian yang dipenuhi rumput, semak, dan daun kering. Pendaki perlu mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku, menjaga api secara ketat bila diperbolehkan dalam aturan kawasan, serta tidak meninggalkan material yang dapat memicu kebakaran.
Dibukanya kembali jalur Senaru menandai pulihnya akses lima pintu pendakian wisata Gunung Rinjani. Namun, keamanan pendaki dan kelestarian kawasan tetap menjadi tanggung jawab bersama antara pengelola, petugas lapangan, serta setiap pengunjung yang memasuki taman nasional.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Lima Jalur Pendakian Gunung Rinjani Kembali?
Lima Jalur Pendakian Gunung Rinjani Kembali is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Lima Jalur Pendakian Gunung Rinjani Kembali matter?
Lima Jalur Pendakian Gunung Rinjani Kembali matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

