Skip to content
Nasional

Hari ke-4 Hilang Kontak, Keberadaan Jurnalis Peliput Krakatau Belum Ditemukan

Patricia Thomas - wartanaya.com 4 mins read

Upaya menemukan lima pewarta foto yang hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlanjut hingga hari keempat. Tim pencarian

Hari ke-4 Hilang Kontak, Keberadaan Jurnalis Peliput Krakatau Belum Ditemukan

Pencarian Lima Jurnalis di Sekitar Anak Krakatau Belum Membuahkan Hasil

Wartanaya.com – Upaya menemukan lima pewarta foto yang hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlanjut hingga hari keempat. Tim pencarian belum menemukan tanda keberadaan mereka di kawasan Pulau Sertung dan perairan Selat Sunda.

Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad menyampaikan bahwa pemantauan secara visual dengan teropong belum memperlihatkan petunjuk terkait lima jurnalis tersebut. Pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan dukungan nelayan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis itu terdiri atas pewarta foto ANTARA Muhammad Bagus Khoirunas, Arie Basuki dari merdeka.com, Donal Husni yang bekerja sebagai fotografer lepas, Yudhistira dari iNews, serta Daus dari Anadolu. Mereka hilang kontak sejak Senin, 7 September, ketika menuju perairan Selat Sunda untuk melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Pulau Sertung Masih Masuk Zona Rawan

Pulau Sertung menjadi salah satu lokasi yang perlu diperiksa karena berkaitan dengan rute peliputan para jurnalis. Namun, tim belum dapat melakukan pencarian langsung di pulau itu lantaran wilayahnya berada dalam radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi atau PVMBG masih menetapkan area tersebut sebagai kawasan berbahaya. Kondisi itu membuat operasi pencarian harus mempertimbangkan keselamatan seluruh personel, termasuk kemungkinan perubahan aktivitas gunung api dan keadaan cuaca di lapangan.

“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km ya, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” paparnya.

Tim SAR telah menyusuri sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Keterlibatan nelayan setempat juga menjadi bagian penting dalam pencarian karena mereka mengenal kondisi perairan dan jalur pelayaran di kawasan Selat Sunda. Meski demikian, pemeriksaan setiap lokasi tetap harus disesuaikan dengan batas aman yang ditetapkan otoritas terkait.

Radius bahaya bukan sekadar batas di peta. Area di sekitar gunung api aktif dapat menghadapi risiko material vulkanik, asap, abu, gelombang, serta gangguan jarak pandang. Karena itu, pencarian tidak dapat dilakukan dengan mengabaikan informasi keselamatan yang terus diperbarui.

Drone Terkendala Kabut Asap Tebal

Basarnas juga berusaha memperluas cakupan pemantauan melalui penggunaan drone. Peralatan itu dioperasikan dari Kapal Negara Search and Rescue atau KN SAR Tetuka di sekitar Pulau Sangiang. Penggunaan drone diharapkan dapat membantu melihat area yang sulit dijangkau langsung oleh personel.

Namun, penerbangan drone belum menghasilkan gambaran maksimal. Kabut asap yang tebal menutup pandangan dan membatasi kemampuan perangkat untuk mengamati wilayah pencarian dari udara. Kondisi tersebut menambah tantangan operasi, terutama ketika visibilitas menjadi faktor penting untuk mengenali objek atau tanda-tanda keberadaan korban.

“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” ucap Amrad.

Hambatan jarak pandang membuat pencarian harus memadukan berbagai metode, mulai dari pengamatan dari kapal, pemantauan visual dari lokasi aman, hingga penggunaan teknologi ketika situasi memungkinkan. Setiap metode memiliki keterbatasan sendiri, khususnya di kawasan dengan aktivitas vulkanik dan kondisi laut yang dapat berubah.

Dalam situasi seperti ini, hasil pencarian tidak hanya ditentukan oleh luas wilayah yang dijangkau. Keputusan mengenai waktu keberangkatan, arah penyisiran, dan penggunaan peralatan juga sangat bergantung pada kondisi alam yang berlangsung saat itu.

Pembaruan Cuaca dan Aktivitas Vulkanik Dipantau Berkala

Basarnas terus menerima pembaruan mengenai cuaca serta perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG, PVMBG, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah berikutnya.

Koordinasi ini diperlukan agar tim dapat menilai kapan suatu area cukup aman untuk didatangi dan tindakan apa yang perlu disiapkan sebelum memasuki wilayah berisiko. Informasi yang datang secara berkala juga membantu petugas menyesuaikan operasi apabila arah angin, ketebalan asap, atau kondisi perairan mengalami perubahan.

“Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi, mereka melaporkan per jam perkembangannya, apabila ada urgensi, itu akan menyampaikan ke kami,” tuturnya.

Pencarian di kawasan Selat Sunda memerlukan kehati-hatian tinggi karena operasi berlangsung dekat gunung api aktif. Keselamatan personel pencari tetap menjadi bagian dari prioritas, bersamaan dengan upaya untuk memperoleh kepastian mengenai nasib lima jurnalis yang belum dapat dihubungi.

Hingga tahap pencarian ini, belum ada informasi tentang lokasi kelima pewarta foto tersebut. Tim SAR gabungan masih mengembangkan upaya pencarian dengan memperhatikan pembaruan kondisi lapangan, termasuk kemungkinan akses menuju Pulau Sertung apabila situasi dinilai lebih memungkinkan.

Bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat yang menunggu kabar, perkembangan operasi sangat ditentukan oleh keselamatan dan kondisi alam di sekitar Anak Krakatau. Pencarian akan terus membutuhkan koordinasi antara petugas penyelamat, nelayan, serta lembaga yang memantau cuaca dan aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.

Frequently Asked Questions

What is Hari ke 4 Hilang Kontak Keberadaan?

Hari ke 4 Hilang Kontak Keberadaan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Hari ke 4 Hilang Kontak Keberadaan matter?

Hari ke 4 Hilang Kontak Keberadaan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion