Data Center RI Butuh Tambahan Listrik 2.000 MW, Setara Kebutuhan Satu Kabupaten
Ekonomi digital Indonesia terus melaju. Laporan DBS bersama Tenggara Strategics mencatat nilai GMV sektor digital nasional menembus US$ 99 miliar pada 2025
Tantangan Listrik 2.000 MW Mengintai Ekspansi Pusat Data Indonesia
Wartanaya.com – Ekonomi digital Indonesia terus melaju. Laporan DBS bersama Tenggara Strategics mencatat nilai GMV sektor digital nasional menembus US$ 99 miliar pada 2025, mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pasar digital terbesar di kawasan Asia Tenggara. Di balik pertumbuhan tersebut, kebutuhan infrastruktur pendukung—terutama listrik—menjadi persoalan yang tak bisa diabaikan.
Proyeksi Kebutuhan Energi Tambahan
Kepala Riset PT BBKP Indonesia, William Simadiputra, memperkirakan ekspansi pusat data di dalam negeri akan menyerap tambahan kapasitas listrik sekitar 2.000 megawatt (MW). Angka itu, menurutnya, setara dengan pasokan listrik yang dibutuhkan oleh minimal satu kabupaten. Ia menyampaikan hal tersebut saat peluncuran riset DBS Indonesia berjudul The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks di Jakarta, Jumat (28/8).
“Data center di Indonesia memiliki penambahan misalnya 2.000 MW. Sedangkan untuk dari satu power plant yang saat ini tersedia 2.000 megawatt itu cenderung dapat memberikan kapasitas atau memberikan pasokan listrik untuk at least satu kabupaten.”
William tidak mengaitkan proyeksi tersebut dengan tahun tertentu. Artinya, angka 2.000 MW menggambarkan kebutuhan ekspansi ke depan, bukan target kapasitas yang wajib tersedia pada 2026.
Lonjakan Permintaan dari Multi-Sektor
Menurut William, lonjakan permintaan listrik tidak semata-mata berasal dari pusat data. Arus investasi yang masuk ke Indonesia juga mendorong hilirisasi pertambangan, dan kedua sektor itu sama-sama menuntut energy backbone yang kokoh. Tanpa pengembangan kapasitas energi yang memadai, ia memperingatkan akan terjadi disrupsi pasokan.
“Ini akan mengakibatkan terjadinya disrupsi jika tidak ada pengembangan kapasitas energi yang cukup.”
Di sisi lain, industri telekomunikasi nasional dinilai telah mencapai tahap kematangan. Setelah melewati evolusi dari era 2G, 3G, hingga 4G, memperluas jaringan melampaui Pulau Jawa, serta menggeser dominasi layanan suara ke arah data, operator Telco kini mencari sumber pertumbuhan baru. Pengembangan pusat data dan infrastruktur digital menjadi salah satu jalur yang dipilih.
“Growth opportunity for the Telco sector adalah bagaimana mengembangkan yang pertama adalah pusat data dan infrastruktur digital.”
William menegaskan bahwa pusat data akan berperan sebagai salah satu tulang punggung Indonesia dalam memasuki era kecerdasan buatan.
Konteks Nasional: RUKN 2025–2060
Kebutuhan listrik pusat data ini bertepatan dengan proyeksi kenaikan konsumsi listrik nasional secara keseluruhan. Berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025–2060 yang dirujuk laporan DBS, total konsumsi listrik Indonesia diproyeksikan melonjak dari sekitar 300 terawatt hour (TWh) pada 2024 menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060. Pendorongnya bukan hanya pertumbuhan ekonomi konvensional, melainkan juga transportasi, hilirisasi industri, infrastruktur digital, dan elektrifikasi rumah tangga.
William mengingatkan agar ekspansi pusat data tidak mengorbankan peningkatan elektrifikasi masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga rasio penetrasi listrik tetap naik sambil mengakomodasi lonjakan permintaan sektor-sektor baru.
“Jadi ini bagaimana kita tetap meningkatkan rasio penetrasi elektrifikasi di Indonesia dan meng-capture peningkatan dari kebutuhan listrik kedepannya.”
Perbandingan Skala: Kasus Amerika Serikat
Riset DBS juga menyajikan gambaran skala konsumsi listrik pusat data di Amerika Serikat. Fasilitas yang berfokus pada AI dapat menyerap daya setara sekitar 100 ribu rumah tangga, sementara satu instalasi berkapasitas 1 GW membutuhkan daya sebanding dengan konsumsi sekitar 800 ribu rumah tangga di negara tersebut.
Isu Transmisi, Bukan Pembangkit
Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, memberikan perspektif berbeda. Ia menyatakan persoalan utama pusat data Indonesia saat ini bukan kekurangan pasokan pembangkit. Excess supply PLN masih berada di kisaran 6,8 GW, terkonsentrasi terutama di Jawa yang memiliki infrastruktur ketenagalistrikan paling matang.
Yang menjadi kendala, menurutnya, adalah komponen transmisi dan distribusi. Operator pusat data tetap harus memastikan ketersediaan energi, gardu induk tegangan ekstra tinggi maupun tegangan menengah, serta konektivitas subsea cable landing pada lokasi yang dipilih.
“Isu bukan di pembangkitannya tapi di transmisi.”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Data Center RI Butuh Tambahan Listrik 2?
Data Center RI Butuh Tambahan Listrik 2 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Data Center RI Butuh Tambahan Listrik 2 matter?
Data Center RI Butuh Tambahan Listrik 2 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
