ESDM: Konsumsi Pertalite Melonjak Hingga 12,92% Usai Harga Pertamax Naik
ESDM - Sejak Juni 2026, harga Pertamax melonjak 32,11% ke level Rp 12.300 per liter, sementara jenis BBM nonsubsidi lain bahkan mencatat kenaikan di atas 50%
Pergeseran Pola Beli BBM: Konsumsi Pertalite dan Solar Meroket Setelah Harga Nonsubsidi Dinaikkan
Wartanaya.com – ESDM – Sejak Juni 2026, harga Pertamax melonjak 32,11% ke level Rp 12.300 per liter, sementara jenis BBM nonsubsidi lain bahkan mencatat kenaikan di atas 50%. Dampak langsung dari lonjakan harga tersebut terasa pada sisi permintaan: masyarakat yang semula memakai bahan bakar nonsubsidi mulai beralih ke produk bersubsidi, sehingga konsumsi Pertalite dan Solar mengalami lonjakan signifikan.
Pertalite: Lonjakan 12,92% pada Juli 2026
Wahyudi Anas, Kepala Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), mengungkapkan data tersebut dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Rabu (26/8). Menurut Anas, sebelum penyesuaian harga, rerata penyaluran harian Pertalite berada di angka 75.795 kilo liter (kl). Setelah harga Pertamax dan Pertamax Turbo dinaikkan, konsumsi harian langsung melonjak 9,19% menjadi 82.760 kl pada bulan Juni.
“Ada pergerakan angka Pertalite. Konsumsinya cukup melonjak setelah kenaikan harga BBM non-subsidi, baik itu Pertamax ataupun Pertamax Turbo.”
Angka tersebut terus merangkak naik. Pada 1 Juli 2026, konsumsi harian mencapai 85.589 kl. Sepanjang periode 1–31 Juli, rerata konsumsi Pertalite tercatat melonjak 12,92% dibandingkan kondisi normal. Saat ini, rerata harian berada di kisaran 84.368 kl.
“Jadi artinya kenaikan konsumsi pertalite yang rerata saat ini menjadi 84.368 kl ini memang shifting (perpindahan) dari yang semula konsumsi pertamax menjadi pertalite.”
Anas menjelaskan bahwa pemicu utama pergeseran ini adalah semakin melebarnya jurang harga antara Pertalite dan produk BBM nonsubsidi lainnya.
Solar: Naik 15,1% Didorong Aktivitas Logistik dan Sektor Produktif
Fenomena serupa juga terlihat pada konsumsi Solar. Sebelum penyesuaian harga, rerata harian Solar berada di 50.624 kl. Pasca kenaikan, angka tersebut melonjak menjadi 58.271 kl atau naik 15,1% per Agustus.
Anas mengaitkan lonjakan Solar dengan meningkatnya aktivitas logistik ekspor-impor, terutama di Surabaya, Medan, Palembang, Riau, Pulau Kalimantan, dan Makassar. Selain itu, sektor produktif seperti perdagangan, akomodasi serta makanan-minuman, dan pertanian turut menyumbang tambahan permintaan.
“Ini mendorong kenaikan konsumsi minyak solar di samping sektor produksi lainnya.”
Antrean Panjang dan Imbauan Beli Sesuai Kebutuhan
Perubahan pola konsumsi tersebut memicu antrean panjang di sejumlah SPBU, terutama di koridor logistik seperti jalur Trans Sumatra. Secara keseluruhan, konsumsi BBM subsidi tercatat naik 10–15% dibanding periode sebelumnya.
Dalam konferensi pers di Komisi XII DPR RI pada Kamis (16/7), Wahyudi menegaskan bahwa peralihan ini memang diizinkan secara regulasi.
“Ada shifting (migrasi) perubahan pola pembelian. Kalau berdasarkan ketentuan atau regulasi hal ini memang diizinkan dilakukan masyarakat.”
Terlepas dari keabsahan hukumnya, Anas mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan pembelian secara panik atau berlebihan.
“Kami meminta agar masyarakat tidak melakukan pembelian secara panik dan berlebihan. Beli BBM sesuai kebutuhan harian, dengan bijak dan wajar.”
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is ESDM?
ESDM is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does ESDM matter?
ESDM matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
