Potret Sekolah di NTT Usai Gempa, Kelas Retak dan Siswa Belajar di Tenda
Pagi Sabtu, 15 Agustus, bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) berguncang hebat. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut
Gempa M7,7 Luluhlantakkan Sekolah di Flores: Siswa Belajar di Tenda, Tembok Retak Membelah Langit-langit
Wartanaya.com – Pagi Sabtu, 15 Agustus, bumi Nusa Tenggara Timur (NTT) berguncang hebat. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, menghantam tujuh kabupaten di Pulau Flores. Salah satu korban terberat dari bencana itu adalah dunia pendidikan—terutama di sekolah-sekolah yang bangunannya tak mampu menahan guncangan dahsyat.
Retakan Zig-zag di SDK Rowa
Di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Rowa, Kabupaten Nagekeo, kerusakan terlihat jelas di ruang kelas 3A-3B. Retakan membentang dari langit-langit hingga lantai, membentuk pola zig-zag menyerupai alur sungai kering tanpa arah. Plester dinding rontok dan menyisakan batako telanjang. Lantai keramik tertutup serpihan puing serta debu semen. Meja dan kursi kayu masih tersusun sebagaimana mestinya—salah satunya bahkan masih dibungkus taplak hijau—sementara sebuah keranjang sampah kecil berdiri sendirian di sudut, seolah menunggu pembersihan yang tak kunjung datang.
Dua bingkai foto Presiden dan Wakil Presiden masih tergantung rapi di dinding yang nyaris rubuh, kontras dengan kehancuran di sekelilingnya.
Empat Posko Jadi Ruang Kelas Darurat
Sejak hari gempa, seluruh kegiatan belajar-mengajar untuk siswa kelas 1 hingga kelas 6 SDK Rowa dipindahkan ke empat posko darurat yang tersebar di lingkungan tempat tinggal masing-masing murid. Posko-posko itu berupa tenda yang menjalankan dua peran sekaligus: ruang kelas bagi siswa dan tempat berlindung sementara bagi warga terdampak.
SDK Rowa menaungi 155 siswa, 12 guru, dan empat tenaga sekolah yang mencakup pegawai tata usaha hingga bendahara. Selama bangunan belum layak pakai, seluruh aktivitas pendidikan harus menyesuaikan dengan kondisi darurat.
“Selama beberapa hari kami belajar di empat posko di lingkungan masing-masing. Saat ini, ruangan kelas kami rusak berat. Kami tidak bisa menggunakannya untuk kegiatan aktivitas belajar-mengajar,” ujar Wakil Kepala SDK Rowa, Hendrika Wolo Kile, saat ditemui pada Senin (24/8).
Sejarah Bangunan yang Rentan
Hendrika menjelaskan bahwa ruang kelas 3A-3B bukan bangunan baru yang tiba-tiba runtuh. Gedung itu telah berdiri sejak dirinya masih menjadi siswa di sekolah tersebut pada tahun 1976. Selama puluhan tahun, bangunan itu beberapa kali terdampak gempa, termasuk guncangan pada 1992. Terbaru, rehabilitasi dilakukan oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan pada 7 Januari lalu.
“Hanya direhab saja. Sebelumnya bangunan sekolah ini pendek, mungkin sudah direbah yang ketiga atau ketiga empat kalinya,” kata Hendrika, yang menduga gempa terbaru membuat struktur berusia puluhan tahun itu semakin tak mampu menahan guncangan.
Tanpa Korban Jiwa, Namun Ada Luka
Gempa terjadi pukul enam pagi, saat belum satu pun dari 155 siswa tiba di sekolah. Berkat waktu kejadian itu, tidak ada pelajar yang terluka.
“Tidak terluka karena kejadian gempanya di jam 6 pagi. Jadi anak masih dari rumah. Belum tiba di sekolah,” ungkap Hendrika, yang sehari-hari juga mengajar kelas 1A.
Walau demikian, bencana tetap meninggalkan luka di rumah dinas guru. Kepala SDK Rowa tertimpa reruntuhan batu saat gempa mengguncang.
“Ibu kepala sekolah terluka karena tinggal di rumah guru. Ditimpa oleh batu, luka sedikit,” tutur Hendrika.
Mendikdasmen Tinjau Kerusakan
Pada Senin (24/8), Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meninjau sejumlah sekolah terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada. Dua lokasi yang dikunjungi adalah SDK Rowa di Kabupaten Nagekeo serta SD Inpres Ngelapadhi di Kabupaten Ngada, yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan darat dari satu sama lain.
SD Inpres Ngelapadhi: Kerusakan Berulang
Di Desa Turamuri, Bejawa Utara, Kabupaten Ngada, pemandangan serupa terulang. Bangunan kantor guru SD Inpres Ngelapadhi—berwarna merah muda pudar dengan lukisan wajah Yesus berukuran besar di atas pintu masuk—kini tampak berantakan. Bagian depan bangunan nyaris ambruk. Warga dan petugas hilir-mudik di depannya, sebagian mengenakan masker, melangkahi puing beton dan seng yang berserakan di lantai teras.
Kepala Sekolah SD Inpres Ngelapadhi, Monika Duy, mencatat bahwa kerusakan menyasar enam ruang kelas, kantor sekolah, dan laboratorium.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Potret Sekolah di NTT Usai Gempa?
Potret Sekolah di NTT Usai Gempa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Potret Sekolah di NTT Usai Gempa matter?
Potret Sekolah di NTT Usai Gempa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
