Skip to content
Teknologi

Kapasitas Pusat Data Indonesia Bisa Tembus 1,7 GW Akhir 2026

Patricia Thomas - wartanaya.com 4 mins read

Kapasitas pusat data Indonesia bisa melonjak hingga 1,7 gigawatt (GW) menjelang tutup tahun 2026, menurut proyeksi yang disampaikan dalam peluncuran riset DBS

Kapasitas Pusat Data Indonesia Bisa Tembus 1,7 GW Akhir 2026

Kapasitas Pusat Data Indonesia Bisa Tembus 1,7 GW pada Akhir 2026

Wartanaya.com – Kapasitas pusat data Indonesia bisa melonjak hingga 1,7 gigawatt (GW) menjelang tutup tahun 2026, menurut proyeksi yang disampaikan dalam peluncuran riset DBS Indonesia di Jakarta, Kamis (20/8). Angka itu menandai lompatan signifikan dari kapasitas terpasang saat ini yang baru mencapai 650 megawatt (MW), dengan sekitar 600 MW di antaranya berada di bawah koordinasi IDPRO, asosiasi penyedia pusat data nasional.

Hendra, yang hadir pada acara peluncuran laporan bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risk, menjelaskan bahwa proyeksi tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan tekanan nyata dari pasar yang terus bertumbuh.

“Kapasitas terpasang satu Indonesia sudah 650 megawatt. Sebanyak 600 megawatt-nya di antaranya ada di IDPRO dan secara potensi tumbuh jadi 1,7 gigawatt pada akhir tahun ini.”

Permintaan yang Melampaui Laju Konstruksi

Menurut Hendra, persoalan krusial bukan terletak pada minimnya minat pasar, melainkan pada ketimpangan antara laju permintaan dan kecepatan pembangunan infrastruktur. Operator pusat data, ujarnya, menghadapi tekanan untuk mempercepat realisasi proyek agar tidak kehilangan momentum pasar.

“Permintaan justru jauh lebih besar dibandingkan pembangunannya.”

Ketimpangan ini juga mengubah kriteria pemilihan lokasi. Ketersediaan daya listrik saja tidak lagi memadai; operator kini wajib memastikan keberadaan gardu induk, konektivitas jaringan telekomunikasi, serta titik pendaratan kabel bawah laut sebelum memulai konstruksi.

“Mereka harus memastikan keberadaan gardu induk serta konektivitas, termasuk pendaratan kabel bawah laut.”

Transmisi, Bukan Pembangkit, Jadi Hambatan Utama

Paradoksnya, kelangkaan daya pembangkit bukanlah akar masalah. PLN masih memegang kelebihan pasokan sekitar 6,8 GW, yang terkonsentrasi terutama di Pulau Jawa—wilayah dengan infrastruktur ketenagalistrikan paling matang di negeri ini. Kendala sesungguhnya muncul pada segmen transmisi: jalur yang menghubungkan pembangkit ke lokasi pusat data.

“Jadi kalau kita lihat ya isu bukan di pembangkitannya tapi di transmisinya. Jadi ada beberapa anggota kami harus menunggu dua hingga tiga tahun untuk pembangunan gardu induk.”

Artinya, kapasitas pusat data Indonesia bisa terhambat bukan karena ketiadaan listrik, melainkan karena infrastruktur transmisi belum siap menyalurkan daya ke titik yang dibutuhkan.

Tambahan 2.000 MW dan Persaingan Antar-Sektor

William Simadiputra, Indonesia Head of Research DBS Indonesia, memperkirakan ekspansi pusat data ke depan akan menyerap tambahan sekitar 2.000 MW. Skala kebutuhan sebesar itu menempatkan sektor pusat data dalam posisi bersaing langsung dengan agenda kelistrikan sektor industri lain.

“Data center di Indonesia memiliki penambahan misalnya 2.000 megawatt. Sedangkan untuk satu pembangkit listrik yang saat ini tersedia 2.000 megawatt cenderung dapat memberikan kapasitas atau memberikan pasokan listrik untuk setidaknya satu kabupaten.”

William menekankan bahwa Indonesia memerlukan tulang punggung energi yang kokoh agar ekspansi pusat data dan agenda hilirisasi industri dapat berjalan paralel tanpa saling mengorbankan.

Profil Energi dan Potensi Terbarukan yang Belum Tereksplorasi

Paparan DBS menyoroti bahwa sekitar 85% energi primer Indonesia masih bersumber dari bahan bakar fosil: batu bara menyumbang 40%, minyak dan produk minyak 29%, serta gas alam beserta produk gas 16%. Kontribusi energi terbarukan baru berada di kisaran 15%.

Padahal, potensi energi terbarukan nasional mencapai sekitar 3.687 GW, namun tingkat pemanfaatannya masih di bawah 0,5% dari total potensi tersebut. DBS menilai bahwa pengembangan energi masa depan tidak dapat bergantung semata pada pembangkit terbarukan; diperlukan pula pengembangan baterai dan penyimpanan energi, modernisasi jaringan transmisi, elektrifikasi industri, serta pembangunan pusat data ramah lingkungan dan infrastruktur digital yang terintegrasi.

Pusat Data sebagai Tulang Punggung Era Kecerdasan Buatan

William menegaskan bahwa pusat data akan menjadi salah satu infrastruktur kunci bagi perkembangan kecerdasan buatan di Indonesia. Dorongan AI telah mendorong kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga kapasitas pusat data Indonesia bisa menjadi faktor penentu keberhasilan negara dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

“Platform pusat data ini menjadi salah satu tulang punggung jika Indonesia ingin bermain atau sukses di era AI saat ini.”

Dengan demikian, pusat data diposisikan bukan sekadar fasilitas penyimpanan, melainkan platform strategis untuk mempercepat penetrasi AI yang menghasilkan konten lokal dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

FAQ

Berapa proyeksi kapasitas pusat data Indonesia pada akhir 2026? Proyeksi yang disampaikan dalam riset DBS Indonesia menempatkan kapasitas pusat data Indonesia bisa mencapai 1,7 GW pada akhir 2026, naik dari 650 MW yang terpasang saat ini.

Apa hambatan utama pembangunan pusat data di Indonesia? Hambatan utama bukan kelangkaan daya pembangkit, melainkan keterlambatan pembangunan infrastruktur transmisi, khususnya gardu induk. Beberapa operator harus menunggu dua hingga tiga tahun sebelum gardu induk tersedia di lokasi yang dituju.

Berapa tambahan daya listrik yang dibutuhkan untuk ekspansi pusat data ke depan? DBS Indonesia memperkirakan ekspansi pusat data akan menyerap tambahan sekitar 2.000 MW, angka yang setara dengan pasokan listrik untuk setidaknya satu kabupaten.

Join the discussion