Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center Pakai Energi Terbarukan
Perkembangan kecerdasan buatan mengubah secara drastis kebutuhan daya fasilitas pemrosesan data. Pada tahun 2016, satu rak server secara umum belum menyentuh
Investor Global Mendorong Data Center Indonesia Beralih ke Energi Terbarukan
Lonjakan Konsumsi Energi Akibat AI
Wartanaya.com – Perkembangan kecerdasan buatan mengubah secara drastis kebutuhan daya fasilitas pemrosesan data. Pada tahun 2016, satu rak server secara umum belum menyentuh ambang 10 kilowatt (kW). Saat ini, perangkat seperti Nvidia Grace Blackwell 200 mampu mencapai hingga 135 kW per rak. Lonjakan tersebut tidak hanya meningkatkan permintaan listrik, tetapi juga mengubah paradigma pendinginan dari sistem udara ke pendingin cair, sekaligus memperbesar kebutuhan air operasional.
Tekanan dari Pembeli Internasional
Di tengah eskalasi konsumsi energi itu, investor dan pengguna layanan dari berbagai negara kini menyisipkan klausul energi terbarukan ke dalam dokumen pengadaan. Hendra, yang menyampaikan hal ini pada acara peluncuran riset DBS Indonesia berjudul The Sustainability Shift: Indonesia’s Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks di Jakarta, Kamis (20/8), menjelaskan bahwa pembeli dari Eropa Barat maupun Amerika Utara secara eksplisit mensyaratkan pasokan energi bersih dalam setiap request for proposal (RFP).
“Kalau pembeli-nya itu berasal dari negara berbasis di Eropa Barat atau di Amerika Utara, biasanya di RFP-nya sudah dibilang, kalian harus memasok energi terbarukan.”
Respons Industri dan Keterbatasan REC
Tuntutan tersebut mendorong sejumlah anggota IDPRO untuk mengakuisisi Sertifikat Energi Terbarukan (REC) sebagai instrumen kepatuhan. Namun, ketimpangan antara permintaan dan ketersediaan REC mulai menjadi hambatan baru. Hendra mengungkapkan bahwa sekitar 60% dari total 23 anggota IDPRO telah menginternalisasi prinsip kepatuhan ESG dengan orientasi mencapai net zero emisi pada tahun 2030. Menyadari kedekatan tenggat tersebut, anggota mulai mengambil langkah konkret, termasuk pembelian REC dari PLN.
“Keberlanjutan ini memang menjadi yang terdepan dan terpusat dari apa yang kami kerjakan.”
Perspektif Riset DBS: Dari Konektivitas ke Pusat Data Ramah Lingkungan
William Simadiputra, Head of Research DBS Indonesia, menilai bahwa sektor teknologi, media, dan telekomunikasi (TMT) tengah mengalami pergeseran struktural—dari sekadar penyediaan konektivitas bisnis menuju pembangunan pusat data yang ramah lingkungan. Dorongan AI, menurutnya, mendorong volume transmisi data ke skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga infrastruktur daya menjadi platform krusial untuk mempercepat adopsi AI di dalam negeri.
“Ini menjadi salah satu peluang jika kita memiliki energi atau pasokan energi hijau yang cukup untuk negeri kita.”
Peluang Solar PV dan Penyimpanan Baterai
Untuk menjawab kebutuhan energi bersih tersebut, William menyoroti potensi pengembangan solar photovoltaic (solar PV) serta Battery Energy Storage System (BESS). Karakteristik Indonesia sebagai negara tropis dinilai memberikan keunggulan alamiah bagi ekspansi panel surya. Lebih jauh, integrasi solar PV dan BESS diyakini mampu menciptakan nilai tambah bagi industri hilir pertambangan sekaligus menopang operasional data center secara berkelanjutan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center?
Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center matter?
Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
