Jejak Bot di Balik Video Demo Lama Viral Lagi: 9 Retweet dalam 105 Milidetik
Sebuah video demonstrasi yang sudah lama beredar kembali menjadi sorotan di berbagai platform media sosial menjelang peringatan 17 Agustus. Fenomena ini
Jejak Bot di Balik Video Demo Viral Kembali
Wartanaya.com – Sebuah video demonstrasi yang sudah lama beredar kembali menjadi sorotan di berbagai platform media sosial menjelang peringatan 17 Agustus. Fenomena ini memicu dugaan bahwa pola penyebarannya tidak sepenuhnya organik. Dua lembaga riset independen, yaitu Drone Emprit dan Monash University, telah melakukan kajian terpisah dan menemukan beberapa indikasi penyebaran yang terkoordinasi, termasuk kemungkinan besar pemanfaatan bot.
Kecepatan Retweet yang Mencurigakan
Salah satu temuan paling signifikan berasal dari riset Monash University yang meneliti pergerakan video tersebut antara 26 Juli hingga 1 Agustus. Dari total 34.935 unggahan yang dipantau di platform X, hampir seluruhnya (99,46%) berupa retweet. Yang menarik, tercatat adanya sembilan retweet berbeda yang dilakukan hanya dalam selang waktu sekitar 105 milidetik.
Peneliti menilai aktivitas semacam ini sangat sulit dilakukan secara manual oleh manusia. Selain itu, beberapa akun lain juga menunjukkan pola retweet dengan jeda kurang dari satu detik. Menurut laporan Monash University, karakteristik ini mengisyaratkan adanya penggunaan skrip, aplikasi otomatis, atau mekanisme retweet massal yang bertujuan meningkatkan engagement dalam percakapan. Baca juga: Tren Teknologi Digital Indonesia
“Kalau sembilan retweet dilakukan dalam 105 milidetik berarti rata-rata sekitar 12 milidetik per retweet. Itu bahkan lebih cepat dari refresh rate layar. Belum selesai refresh sudah melakukan retweet,” jelas Alfons Tanujaya.
Alfons Tanujaya, spesialis keamanan teknologi dari Vaksincom, menjelaskan bahwa secara teknis aktivitas tersebut paling mungkin dilakukan oleh bot. Meskipun bot tetap dikendalikan manusia, adanya upaya semacam ini kemungkinan mencerminkan kepentingan tertentu yang ingin dicapai. Kecepatan retweet yang sangat tinggi ini menjadi salah satu indikator kuat adanya aktivitas terotomatisasi.
Pola Seed-and-Amplify yang Teridentifikasi
Indikasi aktivitas terkoordinasi juga terlihat dari konsentrasi penyebaran konten. Monash University mencatat bahwa hanya satu unggahan yang menyumbang 13.446 retweet atau setara dengan 38,7% dari seluruh retweet. Sementara itu, sepuluh unggahan teratas berhasil menghasilkan 88,5% dari keseluruhan aktivitas retweet. Pola ini menunjukkan bahwa sebagian besar interaksi terkonsentrasi pada sejumlah kecil sumber konten.
Unggahan dari akun @dieddfish tercatat menghasilkan 13.446 retweet. Monash University menyebut pola ini sebagai struktur seed-and-amplify. Dalam mekanisme tersebut, sejumlah kecil akun membuat atau menyebarkan narasi awal, kemudian ribuan akun lain memperkuatnya melalui retweet. Lihat juga: Analisis Media Sosial Terbaru
“Kalau satu akun menyumbang 13.446 retweet dan hanya 10 unggahan menguasai mayoritas interaksi, ini merupakan ciri khas seed-and-amplify. Bukan viral organik. Kalau organik seharusnya sumbernya jauh lebih banyak dan independent,” kata Alfons.
Kesamaan Temuan dengan Drone Emprit
Temuan Monash University sejalan dengan analisis Drone Emprit mengenai percakapan terkait potensi demonstrasi dan kerusuhan pada periode 17 Juli hingga 3 Agustus. Drone Emprit menemukan adanya indikasi inauthentic coordinated behavior atau ICB. Pola ini terlihat dari penyebaran narasi dengan pesan, gambar, dan video yang sangat mirip di berbagai platform media sosial.
Dalam analisisnya, Drone Emprit menemukan konten-konten dengan kesamaan skenario dan narasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa konten tidak semata-mata muncul secara spontan, tetapi sengaja diperbanyak untuk memperluas jangkauan isu. Selain itu, terdapat sejumlah akun dengan aktivitas tidak lazim. Akun-akun ini antara lain akun baru, akun lama yang kembali aktif, hingga akun yang diduga terindikasi bot atau mengunggah konten serupa dalam waktu berdekatan.
Drone Emprit juga menemukan penyebaran narasi tidak hanya berlangsung melalui unggahan utama. Narasi diperkuat melalui repost, komentar, dan konten serupa yang saling menguatkan di berbagai platform. Dalam pemantauan itu, Drone Emprit mencatat narasi berkembang dari X kemudian menyebar ke platform lain melalui unggahan ulang, gambar, dan video.
Video Lama yang Dibingkai Ulang
Salah satu karakteristik percakapan menjelang demonstrasi Agustus yakni munculnya kembali dokumentasi, video, dan pernyataan lama yang dibingkai seolah-olah merupakan peristiwa terbaru. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi sebelumnya juga mengakui adanya video demo lama yang kembali diunggah dengan konteks berbeda.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan sebagian video tersebut memang berasal dari demonstrasi masa lalu namun diunggah kembali dengan narasi yang berbeda. Hal ini menjadi salah satu strategi dalam amplifikasi pesan melalui konten yang sudah ada. Baca lebih lanjut: Jejak Bot di Balik Video Demo
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Bot dan Konten Viral
Apa itu bot media sosial? Bot media sosial adalah akun otomatis yang dapat melakukan aktivitas seperti retweet, like, dan komentar tanpa campur tangan manusia secara langsung. Bot dapat dikendalikan oleh manusia atau berjalan sepenuhnya otomatis.
Bagaimana cara mengenali retweet bot? Retweet bot biasanya menunjukkan pola retweet dengan jeda sangat singkat, seringkali kurang dari satu detik. Selain itu, retweet bot cenderung melakukan retweet dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Apa itu pola seed-and-amplify? Seed-and-amplify adalah pola penyebaran konten di mana sejumlah kecil akun membuat atau menyebarkan narasi awal (seed), kemudian ribuan akun lain memperkuatnya melalui retweet (amplify).
Mengapa video lama bisa viral kembali? Video lama bisa viral kembali ketika diunggah ulang dengan konteks atau narasi yang berbeda. Hal ini sering terjadi menjelang peristiwa penting atau saat ada isu yang sedang hangat dibahas.
Apakah semua retweet cepat berarti bot? Tidak selalu. Meskipun retweet cepat merupakan indikator kuat adanya bot, beberapa pengguna aktif juga bisa melakukan retweet dengan cepat. Namun, retweet dalam hitungan milidetik sangat jarang dilakukan secara manual.
