Skip to content
Nasional

Ramai Soal Makalah MBG untuk Nobel Perdamaian, Istana: Bukan dari Pemerintah

Patricia Miller - wartanaya.com 4 mins read

Ramai Soal Makalah MBG untuk Nobel Perdamaian menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Istana Kepresidenan hingga saat ini belum dapat memastikan

Ramai Soal Makalah MBG untuk Nobel Perdamaian, Istana: Bukan dari Pemerintah

Ramai Soal Makalah MBG untuk Nobel Perdamaian, Istana: Bukan dari Pemerintah

Wartanaya.com – Ramai Soal Makalah MBG untuk Nobel Perdamaian menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia. Istana Kepresidenan hingga saat ini belum dapat memastikan sumber dokumen akademik yang mencantumkan nama Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu kontributor dalam naskah usulan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk penghargaan Nobel Peace Prize tahun 2026.

Dokumen tersebut telah beredar luas di media sosial dan platform akademik sejak beberapa waktu terakhir. Banyak pihak yang tertarik mengetahui keaslian dan asal-usul makalah yang menyebutkan kontribusi Presiden dalam program gizi nasional ini. Hingga kini, pihak istana masih melakukan verifikasi menyeluruh terhadap dokumen yang beredar.

Hasan Nasbi: Naskah Bukan dari Pemerintah

Hasan Nasbi, yang menjabat sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, mengungkapkan bahwa ia belum pernah melihat dokumen tersebut sebelumnya. Ia juga menegaskan bahwa naskah yang beredar bukanlah produk resmi dari pemerintah. Pernyataan ini disampaikan saat menghadiri Pertemuan Presiden dengan 150 Periset BRIN di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (6/8).

“Saya belum pernah melihat itu. Tapi kayaknya bukan dari pemerintah,” kata Hasan sesuai menghadiri Pertemuan Presiden dengan 150 Periset BRIN di Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (6/8).

Hasan menambahkan bahwa pemerintah saat ini belum dapat memastikan siapa pihak yang menyusun maupun menerbitkan dokumen tersebut. Pihak istana masih melakukan pengecekan lebih lanjut untuk mengetahui asal-usul naskah yang sedang beredar di masyarakat. Proses verifikasi ini melibatkan berbagai pihak terkait untuk memastikan keakuratan informasi.

“Saya rasa enggak ada dari pemerintah itu ya. Entah siapa itu, kami harus cek ya,” ujarnya.

Selain itu, Hasan juga belum memberikan jawaban tegas mengenai apakah pencantuman nama Prabowo dalam dokumen tersebut dilakukan dengan sepengetahuan Presiden atau tidak. Komisaris PT Pertamina tersebut menyampaikan bahwa ia perlu memverifikasi informasi terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Saya harus cek dulu ya,” kata Hasan.

Detail Dokumen Akademik

Paper tersebut memiliki judul lengkap “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth” dengan ketebalan mencapai 69 halaman. Dalam dokumen ini, Prabowo Subianto tercantum sebagai penulis pertama, diikuti oleh Dian Damayanti dan sejumlah nama lainnya.

Afiliasi yang dicantumkan dalam paper tersebut meliputi European Alliance for Innovation, Universitas Borobudur Jakarta, Management and Science University, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, hingga Universitas Negeri Jakarta. Daftar afiliasi ini menunjukkan kolaborasi internasional dalam penyusunan makalah tersebut.

Isi paper tersebut secara khusus membangun argumen bahwa Program MBG dapat diposisikan bukan hanya sebagai program kesejahteraan sosial, tetapi juga sebagai model pembangunan ekonomi dan perdamaian. Program itu disebut dapat memperkuat ketahanan pangan, melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah, petani lokal serta rantai pasok berbasis teknologi.

Paper tersebut dipublikasikan di SSRN pada 31 Maret 2026 dengan keterangan tanggal penulisan 13 Februari 2026. Dalam halaman SSRN, Dian Damayanti tercantum menggunakan gelar Prof. Dr. dan memiliki afiliasi dengan European Alliance for Innovation, serta Universitas Borobudur Jakarta. SSRN juga mencantumkan Prabowo Subianto sebagai penulis dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia.

Reaksi dan Tanggapan Publik

Kasus ini menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk akademisi, praktisi media, dan masyarakat umum. Banyak yang mempertanyakan prosedur standar dalam penyusunan dokumen akademik yang melibatkan tokoh negara. Selain itu, muncul pula pertanyaan mengenai mekanisme verifikasi yang seharusnya dilakukan sebelum dokumen resmi diterbitkan.

Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang bertujuan meningkatkan gizi masyarakat Indonesia. Program ini telah mendapat perhatian internasional karena potensinya dalam mengatasi masalah stunting dan ketahanan pangan di Indonesia.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Makalah MBG

Apakah makalah MBG untuk Nobel Perdamaian resmi dari pemerintah? Hingga saat ini, Istana Kepresidenan belum mengonfirmasi keaslian dokumen tersebut. Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, menyatakan bahwa naskah yang beredar bukan dari pemerintah.

Kapan makalah MBG dipublikasikan di SSRN? Makalah tersebut dipublikasikan di SSRN pada 31 Maret 2026, dengan tanggal penulisan tercatat pada 13 Februari 2026.

Siapa saja penulis dalam makalah MBG untuk Nobel Perdamaian? Penulis pertama adalah Prabowo Subianto, diikuti oleh Dian Damayanti dan sejumlah nama lainnya dari berbagai institusi.

Apa tujuan utama makalah MBG untuk Nobel Perdamaian? Makalah ini bertujuan mengusulkan Program Makan Bergizi Gratis sebagai kandidat Nobel Peace Prize 2026 dengan argumen bahwa program tersebut berkontribusi pada perdamaian dan pembangunan ekonomi.

Bagaimana proses verifikasi dokumen oleh istana? Pihak istana sedang melakukan pengecekan menyeluruh untuk memastikan asal-usul dokumen dan siapa pihak yang menyusun serta menerbitkannya.

Join the discussion