Skip to content
Nasional

Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel MBG, Sebut Tak Jadi Bukti

Patricia Thomas - wartanaya.com 4 mins read

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah memaparkan hasil temuan awal dari investigasi yang dilakukan terhadap sebuah paper

Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel MBG, Sebut Tak Jadi Bukti

Penyelidikan Awal Kemdiktisaintek: Paper SSRN Bukan Bukti Nominasi Nobel

Wartanaya.com – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah memaparkan hasil temuan awal dari investigasi yang dilakukan terhadap sebuah paper yang diunggah di platform Social Science Research Network (SSRN). Dokumen tersebut mencantumkan nama Presiden Republik Indonesia serta beberapa tokoh lainnya. Kementerian menegaskan bahwa keberadaan dokumen ini tidak bisa dianggap sebagai bukti adanya nominasi resmi Nobel sebagaimana yang banyak beredar di masyarakat.

Posisi Para Pihak yang Terlibat

Tim investigasi yang telah dibentuk sejak 4 Agustus 2026 melaporkan bahwa sejumlah individu yang namanya tercantum dalam paper tersebut menyatakan tidak mengetahui, tidak pernah dimintai persetujuan, dan tidak turut serta dalam proses penyusunan maupun pengunggahan naskah. Temuan ini semakin kuat dengan adanya surat permintaan maaf dari penulis utama yang dikenal dengan inisial DD.

“Sejak dibentuk, tim telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mengumpulkan informasi dan dokumen, serta meminta klarifikasi dari pihak-pihak yang terkait,” tulis Kemdiktisaintek dalam pernyataan resmi yang dikutip Kamis (6/8).

Status Akademik Penulis Utama

Kementerian juga mengonfirmasi bahwa DD belum memegang jabatan akademik guru besar dan belum berafiliasi sebagai dosen di perguruan tinggi manapun. Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim investigasi, DD baru saja menjalani sidang promosi doktor dalam waktu beberapa bulan terakhir.

Peran SSRN sebagai Repositori Preprint

Dalam siaran persnya, Kemdiktisaintek menekankan pentingnya memberikan pemahaman yang tepat mengenai SSRN agar tidak terjadi kesalahpahaman publik. Platform ini berfungsi sebagai repositori atau tempat publikasi preprint di mana para peneliti dapat membagikan naskah ilmiah mereka. SSRN bukanlah lembaga yang memiliki kewenangan dalam proses nominasi Nobel.

“Karena itu, keberadaan suatu paper di SSRN tidak berarti isi maupun klaim yang dimuat di dalamnya telah diverifikasi atau diakui oleh Komite Nobel,” tulis kementerian.

Pencantuman nama seseorang dalam paper SSRN tidak serta merta menunjukkan bahwa orang tersebut mengetahui atau menyetujui pencantuman namanya sebagai penulis. Identitas penulis sepenuhnya diinput oleh pihak yang mengunggah naskah. Jika ada nama yang dicantumkan tanpa persetujuan, hal ini menjadi persoalan etika publikasi ilmiah yang perlu diklarifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Mekanisme Nominasi Nobel

Penggunaan istilah “nomination” dalam judul paper juga tidak dapat diartikan sebagai nominasi resmi Nobel. Kemdiktisaintek menjelaskan bahwa proses nominasi Nobel memiliki mekanisme khusus yang hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Selain itu, identitas nominator maupun pihak yang dinominasikan dijaga kerahasiaannya oleh Komite Nobel selama kurun waktu 50 tahun.

Dengan demikian, menurut kementerian, keberadaan paper di SSRN tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang telah memperoleh nominasi resmi Nobel.

Proses Investigasi Berkelanjutan

Kemdiktisaintek menyatakan bahwa investigasi masih terus berlangsung. Tim akan melanjutkan pendalaman secara objektif dan profesional. Apabila ditemukan pelanggaran etika akademik maupun ketentuan lain yang berlaku, kementerian akan mengambil langkah sesuai kewenangannya. Hasil investigasi akan diumumkan setelah seluruh proses klarifikasi selesai.

Detail Paper dan Argumennya

Sebelumnya, paper berjudul “Nobel Peace Prize 2026 Free Meal Program by the National Nutrition Agency Building Smart Business for Food Security Industry and Indonesia’s Economic Growth” setebal 69 halaman mencantumkan nama Prabowo Subianto sebagai penulis pertama, disusul Dian Damayanti dan sejumlah nama lain.

Afiliasi yang dicantumkan antara lain European Alliance for Innovation, Universitas Borobudur Jakarta, Management and Science University, Institut Pemerintahan Dalam Negeri, hingga Universitas Negeri Jakarta.

Isi paper tersebut secara khusus membangun argumen bahwa Program MBG dapat diposisikan bukan hanya sebagai program kesejahteraan sosial, tetapi juga sebagai model pembangunan ekonomi dan perdamaian. Program itu disebut dapat memperkuat ketahanan pangan, melibatkan usaha mikro, kecil dan menengah, petani lokal serta rantai pasok berbasis teknologi.

Paper tersebut dipublikasikan di SSRN pada 31 Maret 2026 dengan keterangan tanggal penulisan 13 Februari 2026. Dalam halaman SSRN, Dian Damayanti tercantum menggunakan gelar Prof. Dr. dan memiliki afiliasi dengan European Alliance for Innovation, serta Universitas Borobudur Jakarta. SSRN juga mencantumkan Prabowo Subianto sebagai penulis dengan afiliasi Presiden Republik Indonesia.

Frequently Asked Questions

What is Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel?

Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel matter?

Kemdiktisaintek Ungkap Investigasi Awal Paper Nobel matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Join the discussion