KOMIK: Geliat Buku Pejabat, Lupa Literasi Rakyat
Ketika Pejabat Gencar Terbit Buku, Rakyat Masih Kelaparan Bacaan
Wartanaya.com – KOMIK - Di tengah hiruk-pikuk peluncuran karya tulis para pejabat negara, satu kenyataan pahit tetap membayangi: mayoritas warga Indonesia masih kesulitan mengakses bahan bacaan yang layak. Kesenjangan distribusi buku belum juga terselesaikan dan terus menjadi hambatan serius bagi peningkatan literasi nasional.
Anggaran Perpusnas Terjepit, Layanan Bacaan Terancam
Masalah ini makin tajam ketika Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menghadapi pemangkasan anggaran yang drastis pada 2026. Alokasi yang diterima hanya Rp378 miliar, sebuah penurunan sebesar 47,6% dari angka Rp721,7 miliar pada tahun sebelumnya. Konsekuensinya langsung terasa: kemampuan Perpusnas menyalurkan bantuan bacaan bermutu ke perpustakaan desa, taman bacaan masyarakat, lembaga pemasyarakatan, hingga puskesmas ikut melemah. Demikian pula dukungan DAK Fisik untuk pembangunan sarana perpustakaan daerah menjadi terancam.
Data yang Menyayat
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 memperlihatkan posisi Indonesia yang memprihatinkan. Skor membaca nasional tercatat 359 poin, menempatkannya di urutan ke-63 dari 81 negara peserta. Sementara itu, data Perpusnas tahun 2021 mengungkap rasio ketersediaan buku yang sangat timpang: satu eksemplar buku harus ditunggui oleh sekitar 90 penduduk.
Geliat Penerbitan di Kalangan Pejabat
Paradoksnya, di sisi lain, para pejabat dan orang-orang di lingkar kekuasaan justru sangat aktif menerbitkan buku. Pada 7 Agustus, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sekaligus meluncurkan sepuluh judul karya tulisnya. Langkah serupa dilakukan Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden, yang secara konsisten menerbitkan buku-buku yang merekam gagasan, kebijakan, serta sosok Presiden Prabowo Subianto.
Diantara judul yang ia tulis atau sunting antara lain Taste of Nusantara dan Inilah Prabowo Apa Adanya. Salah satu karya paling menonjol adalah Presiden Solusi, ditulis bersama Muhammad Qodari dan Agung Gumilar Saputra.
Bacaan sebagai Cermin Politik
Fungsi buku dalam membentuk citra dan menyampaikan pesan politik pejabat negara tidak bisa diabaikan. Presiden Prabowo sendiri dikenal sebagai pembaca berat yang rutin membeli buku. Ia pernah mengungkapkan kebiasaan pribadinya:
"Ia menghabiskan dua hingga empat jam setiap hari membaca sebelum tidur."
Kontras antara intensitas penerbitan di lingkaran kekuasaan dan kelangkaan akses bacaan di tingkat akar rumput inilah yang menjadikan fenomena ini bukan sekadar soal selera literer, melainkan persoalan keadilan informasi yang belum terjawab.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KOMIK?KOMIK is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KOMIK matter?KOMIK matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.